TITIK PANDANG*

TITIK PANDANG
Titik temu agama-agama, polemik Anand vs pengkritiknya
Oleh Sukidi

3c54464aa93245f35b01540e351ee393

Polemik antara Anand Krishna dengan para pengkritiknya berkisar pada kata-kata kunci: “samakah semua agama?”, “absahkah setiap agama sebagai jalan menuju Tuhan mengingat agama itu sendiri berwajah plural?”, “otentikkah hanya ada satu kebenaran dan satu keselamatan?” dan “bagaimana kebenaran dan keselamatan di luar agama kita?”

Dalam buku Islam Esoteris, Anand menegaskan bahwa “bagi para sufi, para mistik, para yogi, agama tak lebih dari sekadar jalan menuju tujuan akhir, yaitu Allah, Tuhan, Buddha, Bapa di Sorga, Ahura Mazda, Satnaam. Sampai di tujuan, mereka saling bisa berpelukan. Luar biasa ya? Kita lewat jalan berbeda-beda, tapi bertemu di sini!”

Lanjut Anand, “Yang mempermasalahkan jalan dan mengatakan bahwa jalannya yang paling baik dan paling benar, sesungguhnya patut dikasihani. Mereka belum sampai pada tujuan. Mereka masih dalam perjalanan!”
Sementara para pengkritiknya, seperti Daud Rasyid (Republika, 23 Agustus 2000) menegaskan ‘Hanya satu Kebenaran’, dan menilai misi tulisan Anand ingin bermuara pada titik kesimpulan ‘semua agama itu sama’.
Nah, saya tidak akan memperpanjang deretan polemik ini yang mungkin tidak akan selesai. Tapi, saya akan berusaha mengulas tuntas polemik itu dari sudut pandang saya sendiri, yang lebih mengedepankan paradigma pemikiran inklusifistik dan bahkan pluralistik.
Baca lebih lanjut

Tafsir Baru Reinkarnasi

Tafsir Baru Reinkarnasi
BUKU / PANJI NO. 49 TH III – 29 MARET 2000
Resensi: Paham reinkarnasi tak populer dalam agama-agama monoteis. Tapi, Al-Quran membenarkan gagasan itu.

Oceanic_Rainbows_by_zweeZwyy
Anand Krishna adalah satu fenomena. Belakangan ini namanya makin mencuat, meski secara perlahan-lahan. Awalnya ia menulis buku mengenai spiritualitas Timur (Bhagavad Gita, Kamasutra, Tao The Cing, Zen), kemudian merambah memasuki spiritualitas antaragama (Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus di Atas Bukit, Wedathama), lalu masuk pada spiritualitas Islam (Islam Esoteris). Produktivitas Anand memang patut diacungijempol. Dalam masa lima tahun sudah 31 buku ditulisnya. Buku-buku dia pun laris bak kacang goreng.
Rupanya Anand sadar benar betapa masyarakat Indonesia yang terpelajar sangat merindukan pengertian-pengertian baru mengenai arti hidup.
Baca lebih lanjut

Mengapa Manusia Alami R e i n k a r n a s i ?

lights_will_guide_you_home_by_mr_twingo
Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Sedangkan reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jadi, jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali. Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai reborn atau reembodiment.
Baca lebih lanjut

Syekh Siti Jenar : Makna Kematian

buku_Siti_JenarSyekh Siti Jenar. Kehadirannya telah menenteramkan sekaligus menggelisahkan! Ajaran Islam yang diajarkannya sangat kontroversial. Jika para wali lain di zamannya menanamkan Islam secara akulturasi, ia membangun Islam di Jawa secara asimilasi, yang kelak dikenal sebagai Islam Jawa atau Islam Kejawen. Pandangan sufistik Islam diramunya dengan mistik Jawa. Lahirlah Islam yang tidak berwajah keras, tapi memancarkan kesejukan sebagai rahmatan lil alamin.
Buku ini mengupas makna kematian yang diajarkan oleh tokoh yang lebih sering disalahpahami itu. Achmad Codjim juga membawa kita menyelami khazanah kearifan tradisional tentang rahasia alam, hidup, akal budi, hakikat dan eksistensi manusia yang diperkaya dengan pelbagai argumentasi keagamaan.

HIDUP PADA PRINSIP KEBENARAN SEJATI – SANG CINTA

___f_i_n_i_s_h____by_oguzceng

HIDUP PADA PRINSIP KEBENARAN SEJATI – SANG CINTA

Demi fajar !
(Bangkitnya kesadaran manusia)
Demi malam yang sepuluh !
( Sepuluh kegelapan hidup )
Demi yang genap dan yang ganjil !
( Kesadaran keberadaan alam semesta, manusia, dan Tuhan )
Demi malam ketika berlalu !
( Ketika kegelapan hidup berganti dengan cahaya kehidupan)
Sungguh, dalam hal ini ada sumpah bagi orang yang berpikir !
( Orang beriman-berbuat dengan ilmu, buahnya mencintai pertemuan dengan Allah).
Q.S. 89 (wal fajri) : 2, ayat al-Fajr :

Ayat al-fajr ini diturunkan sebagai surah yang kesepuluh dari surah yang pertama kali diwahyukan. Sebuah perintah yang diturunkan di masa awal kenabian Muhammad saw, untuk memperhatikan makna 10 malam yang terkait dengan perjalanan/pembelajaran spritual manusia untuk bertemu dengan Sang Cinta, Kebenaran Sejati.

Keberadaan Tuhan, Alam Semesta, dan Manusia.
( Yang Genap dan Yang Ganjil )

Yang kita cari dalam hidup ini adalah kebenaran sejati. Sang Cinta. Keberadaan Yang Ganjil. Bukan kebenaran tunggal atau cinta kalau tidak ganjil. Tidak unik ! Lalu mengapa dalam sumpah itu yang disebut lebih dulu adalah yang genap ? Ya, karena yang genap itu sebenarnya eksistensi (keberadaan alam ini). Sebelum manusia dapat merasa bersentuhan dengan Yang Ganjil, manusia terlebih dahulu merasakan sentuhan dari yang genap. Wujud alam ini dualitas. Berpasangan. Meski hakikatnya adalah satu realitas. Manunggal. Yang Ganjil tidak berada di dalam maupun di luar yang genap. Itulah DIA !

Yang Ganjil ada terlebih dahulu, sebelum adanya yang genap yang berupa langit dan bumi. Dalam Alquran, Dia disebut tiada berawal dan tiada berakhir, Dia sekaligus yang nyata dan yang gaib (QS, al-Hadid 57 : 3 ). Dalam kitab Tao Te Ching XXV : 1-2, Dia disebut sebagai yang suci, kosong, langgeng, berdiri sendiri, dan tidak berubah. Sehingga, Dia dikatakan sebagai ibu alam semesta. Bukankah yang berdiri sendiri dan tidak berubah itu adalah al-Hayy al-Qayyum yang ada di Ayat Kursi (QS. 2:255) ? Bukankah itu sifat yang ganjil ?

Oleh sebab Yang Ganjil, maka semua menjadi ada. Manusia adalah produk dari yang genap, yaitu bumi dan langit. Maka kehidupan manusia sudah pasti mengikuti hukum bumi dan langit. Sedangkan bumi dan langit mengikuti hukum alam semesta (yang tampak maupun yang gaib). Dan, alam semesta mengikuti hukum Tuhan. Sedangkan Tuhan mengikuti hukum Diri-Nya sendiri, alias hukum ”kewajaran” (Tao Te Ching XXV : 6). Hukum kewajaran ini di sebut ” jalan yang lurus.” Jalan yang lurus adalah jalan Tuhan itu sendiri (QS. 6 : 126).

Jalan yang lurus itu pasti satu adanya. Ganjil ! Al-shirath al-mustaqim. Jalan yang lurus dan amat lebar. Di dalamnya ada banyak jalur, karena jalur itu ada di dalam koridor yang lurus, maka jalur mana pun yang dipilih pasti akan menuju-Nya. Tapi, jalan lurus ini akan bisa kita lewati bila kita telah keluar dari kegelapan. Bila kita sudah dapat melampaui lorong-lorong kehidupan yang penuh kegelapan. Tanpa bisa membebaskan diri dari kegelapan, maka cinta tak kunjung datang. Tanpa ada cinta, maka kebenaran tak akan pernah nyata. Meskipun kebenaran itu tunggal, tapi pancaran Wajah-Nya beraneka rupa. Bermacam-macam !

Sudah menjadi kodratnya bahwa mahluk hidup di dunia membutuhkan cahaya. Tubuh manusia atau raga manusia membutuhkan cahaya matahari baik langsung maupun tidak langsung, sedangkan jiwanya akan mendatangi cahaya sumber. Cahaya yang menjadi sumber dari segala cahaya. Manusia hadir untuk menggenapi Yang Ganjil. Jadi, hubungan Yang Ganjil dengan yang genap adalah hubungan reflektif. Yang genap merupakan refleksi dari Yang Ganjil. Manusia adalah refleksi dari Yang Ganjil. Manusia adalah refleksi dari Tuhan Yang Maha Esa. Manusia adalah citra Tuhan. ( Dalam hadis yang bernuangsa sufistik, manusia adalah gambar Tuhan. Juga Kejadian I : 27, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya.” ).

Dialah Cahaya. Cahaya di atas Cahaya ! seperti diungkap surah Nur 24 : 35. ” Allah menunjukkan cahaya-Nya kepada orang-orang yang menghendaki cahaya Tuhan.” Artinya pemilik cahaya itu tidak memberikan cahaya-Nya secara acak, secara sembarangan ! Dan Pencerahan itu tidak diundi. Ia harus diusahakan. Harus dicari sampai ketemu. Kalau sampai kita ini tidak mau mencari jalan kebenaran, jalan kehidupan, menuju cahaya-Nya; Sumpah kita tergolong orang yang sombong. Orang yang tidak percaya adanya jalan hidup, berarti ia telah mendustakan-Nya. Juga disebut sebagai orang yang zalim. Yang menganiaya diri sendiri. Merugikan hidupnya sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat memahami hidup bila kita menolak adanya jalan hidup ?

Dia adalah Cahaya ! Absennya cahaya pada diri manusia menyebabkan munculnya setan/iblis, kemarahan, keputusasaan, sifat-sifat destruktif dan kebejatan (Gary Zukav, 1990). Absennya cahaya berarti hidup dalam kegelapan. Tiada cinta kasih. Dan hidup tanpa cahaya, meski mata tak buta, tapi tak dapat digunakan untuk melihat. Namun bilamana cahaya terlalu terang, manusia pun tak akan mampu melihat apa-apa. Maka, kehadiran cahaya dibutuhkan tahap demi tahap. Setiap jenis kegelapan harus diterangi dengan cahaya yang sesuai. Bukankah gelap yang diselimuti kabut memerlukan cahaya kuning !

Yang Ganjil merupakan sumber bagi yang genap. Bukan sebaliknya ! Yang Ganjil adalah realitas. Yang genap hanyalah bayang-bayang-Nya. Dia itu Ganjil. Unik ! Karena itu, kata-kata tak pernah bisa melampaui-Nya. Kata-kata tak dapat mengungkapkan hakikat-Nya. Kalau kata-kata dapat mengungkap hakiki-Nya, Dia tidak Ganjil lagi. Dia tidak dapat didekati, kecuali dengan cinta sejati, mahabbah. Dia itu Ganjil. Cinta itu Ganjil. Maka, Dia adalah Cinta. Dan, hanya dengan mewujudkan ”cinta”, kita dapat mendekati Sang Cinta.

Yang Ganjil adalah Diri-Nya. Yang genap adalah alam semesta. Karena, alam semesta merupakan perwujudan dari ying dan yang. Alam semesta merupakan paduan dari maskulinitas dan feminitas, Kejantanan dan keperempuanan. Keperkasaan dan kelembutan. Paduan dari unsur positif dan negatif. Sedangkan Dia…., bukan laki-laki, juga bukan perempuan ! dilihat dari sudut keperkasaan-Nya, disebut huwa. Dilihat dari kelembutan-Nya, disebut Hiya. Dalam khazanah sufi jawa, tarikan nafas diiringi dengan menyebut nama-Nya ”hu”. Dan, hembusan nafas diiringi dengan menyebut nama-Nya ”ya”. Dia Ganjil, karena Dia bukan huwa dan bukan hiya. Dia, Ganjil, karena huwa dan hiya merupakan wajah-Nya ! Oleh sebab itu, kemana saja kita menghadapkan wajah kita, maka sesungguhnya kita senantiasa menghadap kepada Wajah-Nya (QS. Al-Baqarah 2 : 115). Bagi yang masih berada dalam kegelapan, yang ditatap bukan wajah-Nya, melainkan benda.

Bagi yang masih dalam kegelapan, apa yang dilihatnya adalah benda. Karena itu, lingkungan hidup pun semata-mata diperlakukan sebagai benda. Dan, karena benda-benda tersebut dieksploitasi untuk kesenangan hidupnya belaka, maka benda-benda itu beralih fungsi menjadi berhala. Namanya berhala, ya merusak sendi-sendi kehidupan penyembahnya. Lain halnya dengan mereka yang sudah berada di alam terang. Semua yang dilihatnya adalah Wajah Allah. Misalnya, ketika melihat uang, maka yang disaksikan adalah Wajah-Nya. Maka, uang diperlakukan dengan benar dan wajar. Sedangkan bagi penyembah berhala, uang dijadikan tuhan. Jelas beda bukan ?

Sudah saatnya kita lampaui yang genap dan bergegas menuju Yang Ganjil. Kita keluar dari kegelapan menuju yang terang. Meninggalkan thagut/hawa nafsu (ego) menuju Yang terang. Menuju Tuhan. Kita harus sadar bahwa tujuan kita adalah Tuhan. Tujuan hidup ini bukan agama atau surga ! Agama hanyalah sarana. Alama semesta, bumi dan langit prasarananya. Surga hanyalah wahana untuk menuju-Nya. Maka, kita jangan sampai keliru. Manusia memang dibentuk dan ditumbuhkan dalam kegelapan. Seperti biji tumbuhan, ditanam dan ditimbuni tanah. Beberapa hari kemudian biji tumbuh dan muncul di permukaan tanah. Biji tumbuh mencari cahaya. Manusia pun demikian. Dibentuk di alam yang gelap yaitu diperut ibu. Setelah jabang bayi lahir dia pun membutuhkan cahaya atau kesadaran, tahapan-tahapan kesadaran (keluar dari kegelapan-kegelapan) sampai bangkitnya kesadaran sejati. Kesadaran yang menemukan Cahaya di atas Cahaya yaitu ”jalan yang lurus” Kebenaran Sejati-Sang Cinta.

dreams_and_reality_by_margheritadolcevita

Jenis-Jenis Kegelapan

1. Kegelapan di dalam perut.
Kehidupan di dalam perut ibu diliputi oleh 3 pohon kegelapan. Yaitu :
a. Syajaratul al-kawn-Pohon Kejadian. Di alam ini makhluk tumbuh dalam media yang lemah, tidak ada yang bisa memastikan bahwa proses pembuahan itu pasti akan selamat sebagai bayi. Diri yang mau menjadi janin, jabang bayi, tak menguasai dirinya. Jabang bayi tumbuh diluar kendali dirinya. Ia hanya patuh dan pasrah pada kodrat dan iradat Tuhan. Ia seperti kue dalam proses pencetakan. Semua bahan untuk pembentukan fisik janin dipasok dalam bentuk sari-sari makanan. Ada kekuatan yang mengatur proses kejadian di dalam perut. Kekuatan itu gelap bagi sang bayi. Pohon kejadian ini tetap melekat pada sang janin dan mengiringinya di dunia. Karena tidak ada yang dapat memastikan apakah dia bisa selamat selama di dunia, seperti ketidaktahuan kapan ajal menjemput. Dan, matipun tidak bisa diketahui apakah selamat di alam kematian. Selubung al-kawn ini harus dibuka. Daunnya yang terlalu rindang, yang membuat kehidupan di bawahnya gelap harus dipangkas agar cahaya masuk. Tapi ini baru satu pohon kegelapan. Pohon kegelapan yang lain pun harus dipangkasi. Pohon kejadian inilah pohon pertumbuhan.

b. Syajaratul al-khuldi. Pohon Kematian. Tumbuh, tapi bisa mati. Dilahirkan, tapi antre untuk mati. Bukan hanya matinya fisik, tapi matinya kesadaran manusia. Matinya moralitas manusia. Matinya relasi dengan Tuhan. Sehingga, yang semula antara Tuhan dan manusia tak berjarak, dengan memakan pohon tersebut manusia merasa berpisah dengan Tuhannya. Pohon al-khuldi adalah pohon kematian, dengan memakannya berarti mempercepat manusia ke alam kematian. Itulah kisah Adam dan Hawa, yang karena bisikan setan yang menjebaknya bahwa buah pohon ini adalah pohon kekekalan, sehingga dia memakannya. Hal itu terjadi karena manusia diliputi kegelapan. Dilahirkan bukan untuk menempuh kehidupan. Justru untuk antre mati. Makan dan minum sehari-hari hanya untuk menunda kematian. Bukan meniadakan kematian. Rupanya, air yang berubah menjadi uap dan mengangkasa, akhirnya kembali menjadi air. Jika ia berasal dari laut, ke laut pula kembalinya.

c. Syajaratul al-jahalah. Pohon kebodohan atau ketidak tahuan. Ketika jabang bayi tumbuh dan berkembang di dalam rahim, ia tidak tahu mengapa proses itu terjadi. Ia pun hanya bisa menerima takdir bahwa setelah sembilan bulan sepuluh hari ia harus keluar dari perut ibu. Setelah keluar dari rahim ibu, ia cuma bisa menangis kalau lahir sehat. Selain dari itu masih lemah dan tak berdaya alias masih bodoh. Satu-satunya tanda yang dapat disampaikan kepada manusia di sekelilingnya bila ia membutuhkan sesuatu adalah bunyi ”tangisan”. Di dalam kandungan manusia tidak dibekali kemampuan. Manusia tidak punya pengetahuan. Tapi manusia punya potensi untuk mengetahui. Pohon kebodohan ini harus dipangkas dengan jalan belajar dan berlatih. Kedua cara inilah yang membedakan antara dunia hewan dan manusia. Hewan hidup dibentuk oleh lingkungannya. Tapi, manusia hidup justru harus dapat mengatasi kendala-kendala yang ada dilingkungannya. Bukan untuk menghancurkan lingkungan. Justru manusia harus membangun lingkungannya untuk menjadi surga bagi hidupnya. Bila hewan dilahirkan dan tidak dijaga induknya, musuh alaminya yang akan memangsa. Tapi, manusia, bila ia dilahirkan dan tidak dijaga, musuhnya adalah kelemahannya, ketidakberdayaannya. Musuhnya adalah kebodohannya. Kalau ingin selamat lahir dan batin, selamat dunia dan akhirat, manusia harus membebaskan diri dari kebodohannya. Manusia harus bebas dari kebodohan tentang dunianya. Juga, harus bebas dari kebodohan tentang kehidupannya di alam akhirat. Alam lain atau alam kehidupan yang akan datang. Alam akhirat tidak boleh dibiarkan tetap gaib. Dengan kata lain, alam akhirat tidak sekadar dijadikan kepercayaan semata. Tapi, alam tersebut secara aktif ”diimani”. Beriman harus dibedakan dari sekadar percaya atau percaya buta. Beriman berarti berbuat berdasarkan ilmu. Sehingga, buahnya adalah rasa aman bagi siapapun.

2. Kegelapan pasca kelahiran. Setelah lahir pun ketiga pohon kegelapan itu tetap menguasai kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Terutama Pohon Kebodohan; ini yang paling berbahaya bagi keberadaan manusia. Karena pohon kebodohan atau ketidaktahuan ini bercabang banyak. Kalau sampai hari tua dan ajal tiba hal ini masih menyelimuti, maka penderitaanlah adanya. Sehingga untuk hidup manusia harus membongkarnya.

” Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan fuad (inner heart=hati yang paling dalam) agar kamu dapat bersyukur.” (QS. Al.Nahl 16 : 78).

Manusia selalu diliputi kegelapan karena kebodohannya. Tirai kegelapan yang paling vatal adalah kecintaan dunia. Tirai yang membuat gelap itu harus disingkap. Telinga jasmani harus didukung dengan menggunakan telinga hati yang ada di dalam fuad. Mata jasmani harus diperkuat dengan mata hati dalam fuad. Siapa yang tidak sungguh-sungguh memberdayakan fuadnya, akan mengalami kebutaan batin dan ketersesatan di alam yang akan datang (QS. Al-Isra : 17 : 72).

3. Kegelapan dalam hidup. Manusia dilahirkan dengan bekal pendengaran, penglihatan, dan fuad. Ini adalah sarana untuk menyingkap kegelapan hidup. Terutama pohon ketidaktahuan. Pohon itu melekat pada jasad hidup manusia dari janin hingga ke liang kubur. Bahkan, kehancuran sebuah negeri itu disebabkan oleh ketidaktahuan penduduknya. Kunci untuk melenyapkan ketidaktahuan adalah ”bertanya” kepada yang berilmu (QS. Al-Anbiya 21 : 7). ”Bertanya” artinya melakukan penyelidikan dan penelitian ilmiah. Penelitian yang di dukung oleh pemberdayaan fuad seoptimal mungkin. Penelitian yang diperkuat oleh pengalaman, pemikiran, dan intuisi.

Ada tiga macam ketidaktahuan, yaitu : ketidaktahuan terhadap keinginan, kesenangan, dan kepercayaannya. Pertama, manusia tidak mengetahui batas keinginannya. Jikalau keinginan itu tidak dikendalikan, manusia akan jadi diperbudak oleh keinginannya. Sehingga ia mengalami kegelapan dalam hidup. Kedua, kesenangan hidup juga membawa manusia ke kegelapan hidup. Karena tidak mengetahui batas kesenangan yang dikejarnya. Kesenangan terhadap ”sesuatu” yang maujud di dunia ini dapat menghalangi perjalanan diri manusia menuju Tuhannya. Ketiga, ketidaktahuan kepercayaan; yaitu ketidaktahuan terhadap batas-batas kepercayaan yang dipeluknya. Inilah ketidaktahuan terhadap unsur tak wujud. Unsur ini tak dapat dilihat dengan mata, tak terdengar oleh telinga. Tapi ia menjadi idola manusia. Yaitu kultus, ideologi, kepercayaan dan agama. Menjadi kegelapan dalam hidup karena kepercayaan ini dianggap sebagai tujuan hidup.

e_q_u_i_l_i_b_r_i_u_m_by_islandtime
KEMBALI KE FITRAH

Hidup ini dilahirkan menurut fitrah. Ada cetak birunya, yaitu cetak biru yang disepakati bersama antara Sang Diri (hamba) dan Sang Maha Diri (Tuhan) (QS. Al-A’raf 7 : 172). Fitrah ini adalah suatu perjanjian primordial persaksian manusia bahwa Tuhan adalah Kebenaran Sejati. Bentuk persaksian ini merupakan pengakuan bahwa manusia akan selalu berpegang pada ”jalan yang lurus”. Lalu, berdasarkan kesepakatan pada perjanjian ini, manusia diperintah Tuhan untuk menegakkan kehidupan pada ”jalan yang lurus” (QS. 30 : 30). Menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia dihadirkan untuk memperindah bumi yang sudah diciptakan Tuhan dengan baik. Jadi kehidupan yang lurus itu merupakan karakter manusia. Sifat asal manusia. Dan, manusia itu bagian dari alam. Maka, meski manusia itu menjadi wakil Tuhan untuk mempercantik atau memakmurkan bumi, tapi ia tidak boleh keluar dari karakternya. Ia tidak boleh merusak alam. Tidak boleh merusak keseimbangan alam. Menjaga keseimbangan alam merupakan upaya untuk kembali ke fitrah manusia. Jadi kembali ke fitrah hidup adalah kita harus melampaui ke-ego-an kita. Kita harus menemukan ”diri sejati” kita.

Secara fisik manusia dibuat dari unsur-unsur yang berasal dari bumi, air, udara, api, cahaya, dan ruang (space) dalam waktu (time) tertentu. Secara fisik manusia memiliki sifat-sifat yang terkandung pada unsur-unsur tersebut. Sifat bumi menyebabkan manusia bisa menerima. Sifat air membuat manusia ingin bertindak dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Sifat api itu membakar dan menyebabkan kemarahan. Sifat udara ingin bertahta, berkuasa dan menguasai lingkungannya. Sifat cahaya membuat manusia ingin menerangi atau menyenangi keindahan. Sifat ruang menyebabkan manusia tergantung kepada yang lain. Waktu menyebabkan manusia memiliki sifat tergesa-gesa.

Secara biologis manusia diciptakan oleh Tuhan melalui sistem pewarisan sifat dari induknya. Artinya, seorang anak merupakan wujud dari gabungan sifat dari kedua orang tuanya. Sifat-sifat ini diwariskan dalam paket sifat yang disebut gen. Dan gen-gen itu berada di dalam kromosom. Jadi, gen dari bapak bergabung dengan gen dari pihak ibu. Ternyata gen juga punya kekuatan. Gen yang kuat disebut gen yang bersifat dominan. Gen yang lemah, disebut resesif. Kalau sama kuat, disebut intermidier. Secara biologis sifat yang tampak secara lahiriah disebut fenotif. Sifat gen yang tidak tampak dinamakan genotip.

Perbuatan atau karma, yaitu : dalam bahasa arab disebut amal. Amal yang baik akan menghasilkan buah yang baik, misalnya hidup bahagia, makmur, mendapatkan kemudahan dalam hidup dan yang sejenisnya. Amal yang buruk akan menghasilkan kehidupan yang kurang beruntung, menderita, bahkan kalau amat buruk akan hidup tertimpa bencana.

Manusia dilahirkan menurut fitrahnya (Hadist). Fitrah artinya menciptakan atau menjadikan. Jadi dilahirkan menurut fitrahnya berarti dilahirkan berdasarkan sifat-sifat fisik unsur bahan pembentuknya, sifat-sifat biologis yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, perwujudan dari kumpulan buah karma pada beberapa kehidupan sebelumnya, dan kesepakatan perjanjian primordial antara Sang Diri (Hamba) dengan Sang Maha Diri (Tuhan).

KEYAKINAN

Keyakinan ada tiga tahapan pencapaian :
1. Ilmu al-yaqin, adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan.

2. Aynu al-yaqin, adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan yang sudah dipraktekkan atau dibuktikan dengan perbuatan, sesuai pengalaman.

3. Haqq al-yaqin, adalah keyakinan berdasarkan kesadaran mengapa hal itu harus dilakukan dan untuk apa, serta mampu mengendalikannya. Mampu mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan resikonya, dari segala pilihan-pilihan yang akan dilakukan atau tidak sama sekali. Orang yang mampu mengambil hikmah atau pelajaran dari pengalamannya sendiri, maupun pengalaman orang lain.

Contoh : Dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pengetahuan yang ada kita tahu adanya minuman kopi (ilmu al-yaqin). Tetapi, berdasarkan pengetahuan semata-mata, kita dapat salah dalam memastikan suatu minuman itu kopi atau bukan. Setelah kita meminumnya, kita bertambah yakin bahwa yang diminumnya itu kopi atau bukan. Pengalaman minum kopi ini disebut ’ainul-yaqin. Hanya pernah minum kopi dan tidak pernah menghayati dalam meminumnya, kita tidak akan mengetahui jenis kopi apa yang diminum itu. Kita pun tidak mengetahui kopi tersebut berasal dari daerah mana.

Seseorang yang sudah dapat membedakan kopi jenis robusta, atau arabika, dari Indonesia atau dari Afrika, maka dia disebut sudah ada di tahap ’haqqul-yaqin’.
Hidup juga melalui tahapan demikian. Ketika kita mengetahui ayat-ayat Tuhan hanya karena diajar oleh orang lain, maka keyakinan kita baru pada tahap ’ilmu al-yaqin’. Setelah kita merasakan pahit getirnya hidup ini, maka kita masuk ke tahap ’aynul al-yaqin’.

Nah, apabila kita sudah sanggup mengidentifikasi kemungkinan-kemingkinan yang akan terjadi pada diri kita, kita bisa merasakan hal-hal yang terjadi pada diri kita, maka kita sebenarnya ada di tahap puncak keyakinan ’haqq al-yaqin’. Masing-masing mempunyai jangkauan atau kedalaman tertentu. Misalnya, ada orang yang tahu sedikit ilmu. Tetapi, ada pula orang yang tahu banyak ilmu. Selama belum merasakan atau mempratekkannya sendiri, kedua orang itu ada pada tahap yang sama, yaitu ’ilmul-yaqin.

MAHABBAH – Cinta.

Segala sesuatu akan hidup dan subur bila ada cinta. Rahmat Tuhan pun tiba bila ada cinta. Dan, orang yang sudah mampu mencintai semua manusia, semua kehidupan, adalah orang yang mencintai Rasul. Dan, orang yang mencintai Rasul dengan benar berarti ia telah mencintai Allah.

Cinta bisa tumbuh di masyarakat yang beragama apa saja. Karena setiap umat ada rasulnya (QS. Al-Nahl (16) : 36). Setiap umat ada rasul yang mengajak manusia pada kebenaran. Setiap rasul mengajak manusia untuk menjadi hamba-Nya semata. Dan, mereka diperingatkan untuk menjauhi thagut, hawa nafsunya. Dan, thagut itu merupakan produk pikiran yang jahat. Pikiran inilah yang kerjanya melakukan diskriminasi antar manusia. Inilah yang menghancurkan persatuan.

Setiap umat ada rasulnya. Dan, ini berarti setiap orang telah diberi Tuhan seorang rasul di dalam dirinya. Suara rasul itu dikenali sebagai hati nurani. Hati yang memancarkan cahaya bagi kehidupan. Bila seseorang telah mengikuti petunjuk hati nuraninya, ia sebenarnya telah mencintai Muhammad. Ia mencintai yang terpuji di dalam dirinya. Makanya, Muhammad disebut sebagai nabi bagi semua orang.

Pikiran yang sehat akan menghasilkan cinta. Pikiran yang jahat akan menghasilkan penderitaan. Kecemasan, ketakutan, dan kesedihan merupakan produk dari pikiran yang lagi sakit. Jika keadaan ini yang ada di benak, mind, kita maka kita harus segera mengobatinya dengan maqam spritual yang tersedia (melakukan perjalanan atau pembelajaran spritual). Jika di benak seseorang terdapat pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda yang terus berputar dibelakang sapi penarik pedati. Bila di benaknya hanya ada pikiran yang bersih, maka kegembiraan senantiasa mengikutinya bagaikan bayang-bayangnya sendiri. Sungguh, ini kenyataan.

Mari kita rayakan hidup ini dengan penuh cinta

”Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengan Dia. Barang siapa yang tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Dia pun tidak mencintai pertemuan dengan-Nya.” (H.R. Bukhari)

” Bersihkanlah pikiranmu, wahai manusia. Karena, pikiran-pikiran itu adalah kediaman-Ku dan tempat bersemayam-Ku. Apa pun yang membawamu hidup lebih lurus dan berprestasi besar, pilihlah tugas itu. Dengarlah hatimu, meskipun orang lain tak setuju. Kebenaran ada di dalam dirimu sendiri.” (Jalaluddin Rumi; 2000)

Tidaklah beriman dari kalian semua hingga Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. (Hadis) dan ( QS. 9 : 24 ).

MELEWATI 10 MALAM

Dalam kehidupan modern, keterbukaan atau transparansi adalah kata kunci. Amalan yang tertutup atau tidak transparan adalah ketertutupan, alias hidup di alam gelap. Akibatnya, penderitaan menimpa sebagian besar warga. Nah, beragama pun demikian, kita harus beragama secara terbuka, bukan beragama yang diliputi misteri. Bukan beragama dalam kabut perbaiatan. Bukan beragama di bawah pengawasan pendeta dan kiai. Tapi keberagamaan yang lahir dari ketulusan hati !

Saya dan Anda adalah para taliban. Para pencari kebenaran. Setelah diketahui berbagai macam kegelapan yang menyelimuti kehidupan manusia, kita harus mencari jalan keluar. Kita harus keluar dari terowongan yang gelap itu. Kita harus dapat mendaki jalan yang benar. Ada banyak jalan ke luar yang ditawarkan. Cara mencari Dia dengan membuka selubung rahasia sepuluh malam, adalah salah satu cara. Yaitu Rahasia Tobat, Sabar, Syukur, Zuhud, Rida, Ikhlas, taslim, tawakkal, fana, dan Mahabbah.

Sepuluh aksi untuk keluar dari kegelapan hidup. Sepuluh aksi untuk menempuh perjalanan spritual. Sepuluh aksi untuk menempuh hidup mistik dan makrifat yang transparan. Sepuluh aksi untuk membangun kesadaran untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan dirinya dan lingkungannya. Manusia yang mampu melahirkan budaya progresif dan luhur budinya.

MALAM PERTAMA : TOBAT

Tobat merupakan langkah awal seorang manusia menyusuri jalan lurus untuk hidup sejati. ”Itulah hari yang Haq ! Barang siapa yang menghendaki hidup sejati, hendaknya ia mengambil jalan kembali kepada Tuhannya. (QS. Al-Naba’ 78 : 39).

Perjalanan/Pembelajaran spritual adalah perjalanan untuk melampaui dualitas yang ”lahir” dan yang ”batin”. Kita menuju hidup dalam realita yang satu adanya. Lahir dan batin yang satu adanya. Inilah hidup sejati ! Dan, untuk mencapai kehidupan sejati, maka kita harus kembali ke jalan Tuhan. Jalan kebenaran yang telah ditetapkan di alam ini. Jalan kewajaran. Jalan sebagaimana adanya yang belum direkayasa ! Inilah aslinya makna tobat kepada Tuhan.

Menempuh jalan untuk kembali kepada Tuhan. Bukan kembali dalam pengertian ”mati”, tapi kembali secara sadar dalam hidup ini. Kembali kepada Tuhan berarti bersedia hidup damai dan harmonis di bumi ini. Memberikan kasih sayang kepada kehidupan di bumi ini. ”Sayangilah yang di bumi, niscaya yang dilangit akan menyayangimu”. ”barang siapa yang tidak menyayangi, tak akan disayangi.” (Hadis Bukhari).

MALAM KEDUA : SABAR

Makna kesabaran adalah kesabaran untuk mencari kebenaran. Kesabaran dalam arti ulet dan gigih untuk mencari wajah-Nya ! Ia adalah orang yang memenuhi janji, membangun silaturrahmi, dan sabar dalam mencari wajah Tuhannya. Dan, ternyata, wajah Allah itu bisa ditemui di dalam lubuk hati kita sendiri. Jika kita belum bisa menemukan-Nya di dalam hati kita sendiri, maka selamanya kita tak akan bisa mengenal-Nya.
Manusia sabar menurut QS. Al-Ra’d 13 : 20-22.
4. Pemenuhan janji.
5. Silaturrahmi.
6. Kesadaran terhadap keberadaan Tuhan.
7. Mendirikan shalat.
8. Menafkahkan sebagian rejeki.
9. Menolak kejahatan dengan kebaikan (artinya berbuat kebaikan agar tidak terjadi kejahatan)
Kesabaran itu harus disertai dengan sikap hidup berani, kuat hati (rendah hati), dan bersemangat. “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”, Disebut manusia yang tegar. Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu (Alquran).

Kesabaran adalah sikap hidup ihsan. Merasa selalu dalam pengawasan Tuhan, berusaha memelihara keharmonisan hidup, tidak mau menang sendiri, dan sejauh mungkin menghindarkan dari pertikaian. Mempunyai daya tahan untuk berbuat dan bertindak. Hidup dalam kasih-sayang (saling memberi). Mampu mengendalikan emosi.

Sabar adalah patuh pada aturan, aturan agama, aturan main, aturan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

MALAM KETIGA : BERSYUKUR

Bersyukur adalah berbuat kebaikan yang mendatangkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Bersyukur berarti melakukan perbuatan memberi/berkreasi/bekerja dengan tidak mengharapkan pamrih apapun

MALAM KEEMPAT : ZUHUD

Manusia yang hidup zuhud adalah manusia yang tidak tertarik lagi dengan kenikmatan dunia, akan tetapi sangat peduli dengan kelestarian alam. Menjaga keseimbangan dunia dan akhirat. Tidak dikendalikan oleh dunia, bahkan dunia dikendalikan untuk menjadi pelayannya. Rasul Muhammad saw sudah bertemu Tuhan dalam perjalan Isra Mi’raj, tetapi tetap turun ke bumi untuk memakmurkan bumi.

MALAM KELIMA : RIDA

Rida adalah orang yang menyadari peran hidupnya, bakat, potensi dan talentanya. Ia menyadari nasibnya sebagai manusia yang dihidupkan di dunia ini. Menyadari bahwa nasib buruk yang dialaminya adalah akibat dari perbuatan buruknya, sedangkan keberuntungan adalah buah dari perbuatan kebajikannya.

MALAM KEENAM : IKHLAS

Ikhlas adalah sikap hidup yang patuh pada hukum halal-haram, patuh melaksanakan pada hak dan kewajiban. Memberikan kenikmatan dunianya untuk mendapatkan Keridhaan Tuhan, bertemu dengan Kebenaran Sejati. Mampu mengendalikan keinginan dan kesenangannya.

MALAM KETUJUH : TASLIM

Taslim adalah sikap hidup untuk mempertahankan sikap ikhlas yang telah dicapai. Hati dan pikiran tidak lagi berprasangka negatif, hati dan pikiran sepenuhnya sudah berenergi positif dan tidak ada lagi tempat bagi sikap-sikap negatif. Apapun yang terjadi tidak membuat kita bersedih hati. Apa pun yang luput dari usaha kita, sedikitpun tidak menimbulkan perasaan kecewa pada diri kita. Bilamana datang karunia di hadapan kita, tak ada yang bisa menghalanginya. Kebanggaan adalah kenistaan dan penghinaan adalah kebahagiaan. Kebanggaan adalah awal perbuatan dosa dan penghinaan adalah awal penebusan dosa. Kebanggaan adalah ”ego” pengakuan diri sebagai Tuhan. Meng”aku” sebagai Tuhan. Itu artinya musyrik. Menerima penghinaan adalah sikap Rida, rendah hati. Pengakuan diri sebagai tidak berdaya di hadapan keperkasaan Tuhan.

MALAM KEDELAPAN : TAWAKKAL

Tawakkal adalah orang yang menyerahkan nasib dirinya kepada Tuhan. Jiwa dan raganya diserahkan kepada Allah. Segala daya upaya dikerahkan semaksimal mungkin, dan menyadari bahwa hakikat dari pemilik kekuatan itu adalah Allah semata. Cukuplah Allah sebagai pelindung sejati. Kalau Anda menyerahkan cinta Anda pada seseorang (sesuatu), maka Anda akan berusaha apa pun untuk dapat menggapainya. Tawakkal adalah perbuatan menyerahkan cinta kepada Tuhan. Artinya segala daya upaya harus dikerahkan (kerja keras dan doa) untuk dapat menggapai-Nya, kembali kepada-Nya.

MALAM KESEMBILAN : KE SITUS FANA

Sikap dan perilaku sepenuhnya bersandarkan pada suara hati nurani. Suara hati nurani selalu mendahului dari hasrat dan keinginan yang muncul. Hasrat dan keinginan bersandarkan pada lubuk hati yang paling dalam. Hasrat dan keinginan dipenuhi bukan lagi untuk diri sendiri, tetapi untuk kita menyenangkan Tuhan. Kepuasan Tuhan. Hasrat dan keinginan dipenuhi sebagai sarana untuk bekal melakukan perjalanan/pembelajaran spritual agar kita bisa kembali kepada-Nya.

MALAM KESEPULUH : MAHABBAH

Mahabbah adalah cinta sejati, cinta Yang Ganjil. Tidak ada lagi yang dicintai, kecuali Allah semata, karena Dialah realitas yang Tunggal, pemilik segalanya. Suara hati nurani hanya satu, Cinta. Perbuatan kita adalah manifestasi atau buah cinta kita hanya kepada Tuhan semata. Apa pun yang kita lakukan di dunia ini, semata-mata karena rasa cinta kita kepada Tuhan. Artinya perbuatan kita adalah buah dari sikap perilaku kita mencintai Tuhan.

REINKARNASI (Kelahiran Kembali) DALAM ISLAM
Sumber-sumber Pemikiran :

1. Kita dilahirkan, dimatikan dan dibangkitkan di bumi ini. (QS. Ibrahim 14 : 4). Artinya dilahirkan dibumi, dimatikan dibumi dan dibangkitan di bumi (lahir kembali). Dibangkitkan di bumi artinya menemukan kebenaran sejati Sang Cinta, Jalan Yang Lurus, jalan bertemu Tuhan di muka bumi agar dapat kembali kepada-Nya di alam Tuhan.

”Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengan Dia. Barang siapa yang tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Dia pun tidak mencintai pertemuan dengan-Nya.” (H.R. Bukhari)

Bahwa bencana atau musibah apapun yang menimpa seseorang disebabkan oleh dirinya sendiri. Disebabkan oleh perbuatannya sendiri (QS. Al-Syura : 30). Jelas bahwa nasib hidup seseorang disebabkan oleh perbuatannya sendiri. Bukan oleh orang lain, maupun oleh orang tuanya. Kalau ada bayi dilahirkan cacat, maka itupun hasil perbuatannya di masa lalu. Di masa kehidupan sebelum yang sekarang ini. Artinya apa, ada proses kelahiran kembali. Kita hidup beberapa kali. Kalau hidup hanya sekali berarti tidak ada satupun perbuatan yang dilakukannya sebelum ini. Padahal jelas sekali ayat tersebut. Dinyatakan bahwa tidak ada satu musibah pun yang menimpa diri orang itu kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Bukan orang lain, termasuk oleh orang tuanya sendiri.
”Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusialah yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri”(Q.S. Yunus (10): 44) . Ayat senada terdapat pada Q.S. 29:40.

2. Apa maknanya manusia dilahirkan berkali-kali (konsep reinkarnasi) ? Apa artinya ”moksa” atau putusnya siklus hidup dan mati ?
Reinkarnasi sebenarnya proses tidur dan bangun dalam skala besar. Tidur itu bandingannya mati. Bangun bandingannya hidup. Orang yang tidur sebenarnya adalah orang yang mengalami mati ketika nafas masih melekat di badan. Fungsi tidur untuk menjaga kesehatan tubuh. Fungsi mati adalah untuk menjaga kesehatan jiwa. Bangun tidur untuk bekerja. Dilahirkan lagi (reinkarnasi) untuk memperbaiki kualitas spritual. Itulah sebabnya hidup dalam raga tidak boleh disia-siakan.

Dihidupkan berkali-kali di bumi ini agar manusia bisa bersyukur. Agar manusia dapat meningkatkan kualitas spritualnya. Tanpa tidur badan akan mengalami kelelahan dan akhirnya tidak berfungsi. Tanpa mati jiwa tidak dapat tumbuh dengan sehat. Mati membuat hidup terasa segar, apalagi dengan tubuh yang baru. Dengan kelahiran barunya itu manusia diharapkan dapat menyempurnakan dirinya. Meningkatkan kualitas hidupnya, yang disebut dalam Alquran sebagai orang yang bersyukur (QS. Al-Baqarah 2 : 56).

Siapa yang ingin hidup sejati, hidup yang melampaui proses “hidup” dan “mati”(moksa), maka dia harus mengambil jalan kembali kepada Tuhan, yaitu ”jalan yang lurus”. Jalan para nabi, rasul, dan orang-orang suci, bertemu dengan Kebenaran Sejati. Sang Cinta Yang Ganjil di muka bumi. Perbuatannya semua semata-mata demi Allah, menjadi khalifah untuk memakmurkan bumi dan alam semesta.

3. ”Maka hadapkan wajah engkau kepada landasan yang benar. Allah telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah landasan yang benar ! Tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui.
(Hakikatnya) manusia kembali kepada-Nya. Karena itu, bertakwalah kepada-Nya, dan tegakkan shalat dan jangan menjadi orang-orang musyrik.
Allah adalah yang telah menciptakan kalian. Kemudian memberi kalian rezeki. Kemudian membuatmu mati. Kemudian membuatmu hidup lagi. Adakah sekutu kalian yang dapat berbuat sesuatu yang demikian ini ? Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan”. (QS. Al-Rum (30) : 30, 31, dan 40).

Penjelasan :

Pertama, manusia diperintah untuk berpegangan pada jalan hidup yang benar. Jalan hidup yang ada dalam koridor yang dipenuhi kebajikan. Jalan hidup yang saling menguntungkan, dan jauh dari segala yang merugikan. Jalan hidup yang dipenuhi kecerahan, dan jauh dari ketakutan dan kesedihan. Jalan hidup yang dapat membawa manusia pada pertemuan dengan Tuhannya. Dalam ayat tersebut pegangan hidup yang benar itu disebut din hanif. Yang juga disebut sebagai landasan yang benar, jalan yang benar. Jalan yang membuat pelakunya sampai pada ujung yang benar pula.

Kedua, Allah menciptakan manusia berdasarkan fitrah, berdasarkan sifat dan ciri yang terdapat pada ciptaan. Dan berbagai sifat dan ciri manusia itu tetap. Tuhan tidak mengubah fitrah manusia. Bila manusia mau kembali ke perjanjian primordialnya, ya akan menemukannya. Bila manusia mau kembali ke perjanjian asalnya, ia kan menyadari bahwa dirinya dan seluruh manusia itu satu.

Ketiga, jika manusia tetap berorientasi kepada Tuhan, niscaya ia tetap berada di landasan yang benar.Sayang, sebagian besar manusia tidak mengetahuinya. Mengapa ? Karena, manusia hanya mau tahu yang lahiriah saja, dan melupakan yang bersifat batiniah dalam hidup ini (QS. 30 : 7). Hakikatnya, proses hidup dan mati yang ditempuh manusia itu untuk kembali kepada Allah. Maka, agar proses kembali itu tidak berlarut-larut, manusia diperintahkan untuk tetap berada di jalan yang benar atau takwa kepada Allah. Caranya, tetap menegakkan shalat dan tidak menjadi manusia musyrik yaitu tidak menjadi manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Keempat, proses hidup dan mati itu merupakan ciptaan Tuhan. Hidup diciptakan oleh Tuhan. Mati pun diciptakan-Nya ! Hal inilah yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Dikiranya, mati itu hanyalah proses lebih lanjut dari sebuah kehidupan. Proses mati-hidup-mati-hidup itu merupakan cara manusia untuk dapat kembali kepada-Nya. Jika hanya mengalami sekali hidup di dunia ini, maka manusia tak akan dapat kembali kepada Allah yang telah menciptakan dirinya. (QS. Al-Baqarah (2) : 28 ).

4. Manusia itu sendiri yang menciptakan takdir bagi dirinya. Justru Tuhanlah yang memberikan fasilitasi bagi manusia untuk dapat menyempurnakan dirinya.

”Sesungguhnya Allah tidak merugikan seseorang sedikitpun. Justru, jika ada kebaikan (padanya), Allah pasti melipatgandakan dan memberikan pahala yang besar (kepadanya) dari sisi-Nya.” (QS. Al-Nisa (4) : 40).
Nah, inilah jawaban bagi bayi yang lahir cacat, semua terjadi karena akibat kekafiran dan kemusyrikan yang dilakukannya pada masa kehidupan yang lain, sebelum masa sekarang atau masa kelahiran kembali yang dialaminya. Sungguh, tidak ada dalilnya di dalam Alquran bahwa seseorang yang meninggal ketika bayi, lalu masuk surga. Itu angan-angan ! Apabila bayi meninggal dan langsung masuk surga, maka jangan disalahkan orang-orang yang membunuh bayi atau balita. Nanti, ia akan beralasan bahwa perbuatannya itu untuk menolongnya agar masuk surga. Lho, apa nggak kacau pikiran semacam ini

Orang yang berutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang melepaskannya selain pelunasan hutangnya. (HR. Daylani dari Abu Sa’id al-Khudri). ”Berhutang” sebenarnya adalah perbuatan buruk atau kejahatan selain dari pengertian biasa yaitu mempunyai utang. Kalimat ”tiada yang melepaskannya selain pelunasan hutangnya” bermakna bahwa hutangnya akan terbayar setelah kelahiran kembali. Indikasinya yaitu banyaknya bayi atau balita yang sering terserang sakit atau penyakit walau telah mendapat perawatan yang baik.
Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Nasai disebutkan bahwa seseorang yang gugur di jalan Allah, lalu dihidupkan kembali dan gugur lagi, dihidupkan kembali dan gugur lagi, pasti ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya. Coba perhatikan, orang yang berhutang lalu mati, pasti tidak akan dapat melunasi hutangnya. Dan, ternyata yang harus melunasi itu dirinya sendiri, bukan ahli waris atau kerabatnya. Seseorang yang telah meninggal baru dapat melunasi hutangnya bila ia dilahirkan kembali sebagai manusia. Dan,yang dimaksud dengan qabr (kubur) adalah dunia saat kita hidup ini.

Di dunia ini kita terbelenggu oleh utang kita pada kehidupan kita di masa yang lalu. Kita harus melunasinya saat hidup sekarang ini dengan amal bakti kebajikan. Untuk apa ? Agar kita bebas dari jeratan utang karma (perbuatan buruk) kita. Dan, kita pun berusaha untuk tidak membuat utang yang baru. Sebab, jikalau kita selalu membuat utang (perbuatan buruk/jahat) yang baru, maka kematian dengan gugur di jalan Allah pun tak akan dapat membukakan pintu surga. Berkali-kali gugur tapi tetap utang, perjalanan ke surga terhalang.
Sekarang perhatikanlah Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ’Asakir sebagai berikut : ” Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat dihapus oleh Shalat, puasa, haji, dan umrah. Akan tetapi, dosa-dosa itu hanya dapat dihapus dengan kesulitan (kesusahan) dalam mencari penghidupan.”

Nah, ternyata dalam realitas kehidupan banyak sekali orang yang hidup menderita. Dan, penderitaan hidup itu sebenarnya untuk menghapus utang karmanya (perbuatan dosa masa lalunya, baik dikehidupan sebelumnya maupun kehidupan saat mengalami kelahiran kembali). Mereka mendapatkan apa yang telah diusahakan mereka. Mereka tidak dirugikan sedikit pun oleh Tuhan yang membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini harus kita sadari benar. Lalu, dengan adanya penderitaan mereka itu kita lakukan kebajikan kepada mereka. Kita tidak malah mengisap mereka, tapi membebaskan mereka dari ketertindasan dalam hidup ini. Sehingga, kita sendiri tidak membuat utang baru !

Kita ciptakan takdir kita untuk menyongsong masa depan gemilang. Kita lunasi utang kita dengan kebajikan yang maksimal untuk meraih masa depan yang cemerlang. Kita jalani hidup kita ini dengan penuh kerelaan. Sekecil apapun kebajikan yang dilakukan seseorang, Tuhan akan melipat gandakan imbalannya. Makanya, kita tidak boleh menyesali nasib kita. Kita tidak boleh meratapi kehidupan kita. Yang diperlukan adalah bangkitnya kesadaran kita untuk menyongsong masa depan. Yang diperlukan adalah usaha yang disertai kecerdasan sehingga semua dapat dikerjakan dengan mudah, berjalan dengan efisien dan efektif.

5. Perumpamaan. Hidup ini bisa ada karena adanya air. Sumber air adalah laut yang melalui proses alam menjadi uap dan naik ke atas menjadi awan. Lalu menjadi hujan, air hujan ada yang langsung turun ke laut, ada yang jatuh ke tanah dan melalui proses alam mencapai mata air. Pada muaranya akan kembali kelaut lagi. Jadi bumi atau tanah adalah proses untuk membersihkan jiwa dengan raga yang baru. Jika selama hidupnya cintanya kepada dunia sangat besar, maka dia mati untuk terlahir kembali ke bumi. Sedangkan hidup dengan focus cinta hanya kepada Sang Cinta-Tuhan, maka matinya adalah proses mencapai ”moksa” yaitu hidup bertemu Tuhan di akhirat.

Manusia yang tidak mencapai moksa akan hidup-mati-hidup mati tiada akhir sampai kiamat besar datang. Inilah jawaban kenapa bumi ini lebih banyak dihuni oleh manusia non muslim dan walau beragama Islam tetapi tidak bertakwa. Kiamat akan datang jika tidak ada lagi orang bertakwa yang menegakkan shalat, sehingga manusialah yang menzalimi dirinya sendiri, membuat kerusakan dimuka bumi yang mengakibatkan terjadinya kiamat karena hilangnya keseimbangan alam semesta. Sungguh Tuhan itu Maha Adil, tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendiri merubahnya (Alquran). Siklus hidup-mati-hidup-mati adalah bukti kemahapemurahan, Mahapengampun, Maha Perkasa dan Maha Kuasa perbuatan Tuhan yang puncak sebagai kesempatan kepada hamba-Nya untuk melakukan perjalanan spritual untuk kembali kepada-Nya.

6. Perumpamaan. Kisah Ashabul kahfi yang diriwayatkan dalam Alquran tentang kisah sembilan pemuda yang tertidur di dalam gua selama 100 tahun. Saat mereka bangun, mereka menemukan anjing yang menemani mereka telah jadi kerangka tulang-belulang. Mereka baru sadar, saat mereka keluar belanja ke pasar, uang yang dipake belanja tidak berlaku lagi karena sudah berumur 100 tahun yang lalu. Sampai saat ini tidak ada penemuan ada orang yang bisa tidur selama itu. Artinya siklus mati-hidup-mati hidup adalah sama halnya dengan siklus tidur-bangun-tidur-bangun.

Siklus mati-hidup-mati-hidup adalah istirahat dalam jangka panjang yang berfungsi untuk penyegaran dan penyadaran jiwa manusia. Sedangkan siklus tidur-bangun-tidur-bangun adalah istirahat dalam jangka pendek untuk penyegaran raga kita. Bangun dari tidur adalah kesadaran bagi raga untuk segera bekerja ”bermanfaat”. Karena kembali hidup lagi dari kematian yang kita alami adalah kesadaran bagi jiwa untuk segera melakukan penyempurnaan spritual; yaitu melakukan pencarian dan perjalanan atau melakukan pembelajaran agar tumbuh kesadaran bagi manusia untuk segera bertemu Tuhan di muka bumi. Pertemuan ini akan membuat kita menemukan Tuhan sebagai pembimbing, pedoman, dan fasilitator (sumber kebenaran sejati) kita untuk dapat memenuhi janji kita saat kita dilahirkan, yaitu kembali kepada-Nya.

Dari perumpamaan di atas siklus mati-hidup-mati-hidup, hanya bisa dialami oleh manusia. Binatang tidak mengalaminya, hanya mengalami siklus tidur-bangun-tidur bangun. Itulah salah satu yang membedakan kita dengan binatang. Kita mempunyai jiwa dan raga, sedangkan binatang hanya raga. Kita mempunyai hati dan pikiran. Binatang tidak memilikinya, hanya naluri dan nafsu. Kalau kisah Ashabul Kahfi itu hanya kejadian tidur biasa seperti yang biasa kita alami, maka tentunya anjing yang menemani mereka didalam gua itu, juga masih hidup. Tapi nyatanya tidak, anjing jadi kerangka tulang-belulang, karena tidak ada makhluk yang bisa hidup atau tidur selama satu abad.

Jadi, jelas dan fakta itu di depan mata kita, bahwa kejadian itu adalah kisah Tuhan dan nyata terjadi pada masa itu yang diriwayatkan dalam firmannya di dalam Alquran. Artinya Tuhan memang menciptakan siklus mati-hidup-mati-hidup bagi manusia atau dikenal dengan istilah ”kelahiran kembali di dunia” atau ”Reinkarnasi” sejak manusia itu ada, dari zaman Adam sampai saat ini. Bukankah, dalam Alquran dan hadis juga sudah meriwayatkan bahwa mati adalah pelajaran (hikmah) yang paling berharga bagi manusia. Kalau mati saja adalah pelajaran paling berharga, berarti apalagi hidup, tentu hidup adalah pelajaran (hikmah) yang amat sangat paling berharga bagi manusia.

7. Ajaran reinkarnasi lahir di daratan Cina yang termuat dalam kitab Tao Te Ching, bukankah ada hadis yang meriwayatkan tuntutlah ilmu sampai kenegri Cina. Ajaran reinkarnasi kaum Cina adalah ajaran mati untuk lahir kembali muda dan bukankah penduduk Cina yang paling terbesar saat ini, karena ajaran reinkarnasinya bermakna tiada akhir ”moksa”. Ajaran reinkarnasi lahir di daratan Cina, lewat perenungan (pertapaan) seorang sang Budha Gautama selama 9 tahun di sebuah tempat sepi. Ajaran ini sangat istimewa karena tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.

Inilah yang istimewa di negeri Cina. Kalau Rasulullah menyuruh kita tuntutlah ilmu sampai kenegeri Cina, karena Rasulullah Muhammad saw tahu di sana ada sesuatu yang istimewa. Ada sesuatu hikmah yang penting untuk kita jadikan pelajaran. Kalau hanya hal biasa, tentu Rasulullah tidak perlu memberi kita titah untuk mencari ilmu di sana, karena ditempat lain juga bisa. Bukankah, Rasulullah dan Islam atau Tuhan adalah rahmat bagi seru sekalian alam – Rahmatanlilalamin. Bukankah bangsa Cina adalah manusia seperti kita, saudara kita. Bukankah mereka ada, karena kehendak Tuhan juga. Artinya mereka juga kebenaran, berasal dari sumber Kebenaran Sejati – Sang Cinta, itulah Tuhan kita – Allah – Tuhan semua manusia. Perbedaannya hanya pada upaya kerja keras dari perbuatan kita untuk menemukan ”Jalan Yang Lurus” untuk kembali kepada-Nya.

Disitulah hikmah paling mendalam, bagaimana kelahiran kembali (reinkarnasi) diciptakan Tuhan, sebagai peluang bagi semua hamba-Nya. Peluang bagi semua orang, untuk setiap orang secara sadar bekerja keras – sampai tubuh ini hancur luluh – melakukan perjuangan dalam perjalanan pencarian (hijrah) untuk bertemu Sang Cinta di muka bumi.

Pertemuan ini dengan Sang Cinta, yang akan menjadi kekuatan bagi setiap orang, menjadikan semua kekuatan kebaikan menjadi benih yang tumbuh subur sebagai kekuatan (paling berdaya=mengilhami dan menginspirasi) kita atau energi Maha dasyat. Sebagai titik awal perjuangan kita, kembali dengan upaya kerja keras – sampai tubuh ini hancur luluh – hancur luluh tubuh karena paling bermanfaat bagi sesama – hancur luluh tubuh ini karena kita merasakan pertemuan dengan-Nya – Hancur luluh tubuh ini dalam kebahagian tiada terkira, keharuan tak terperikan.

Hanya isak tangis dan deraian air mata tak tertahangkan sebagai ungkapan rasa haru dalam kebahagiaan sejati. ”Semua tiada berarti, Engkaulah belahan jiwa kami, Engkaulah kekasih kami, Engkaulah dambaan kami, karena Engkaulah yang mencintai kami – selalu merindukan kami – karena Engkaulah yang mencintai kami dengan Cinta Sejati-Mu – Engkaulah pemilik semua yang bernyawa, Engkaulah pemilik segala yang ada, Engkaulah yang satu-satu-Nya Yang Maha Ada dan Maha Nyata. Maha Benar.” (Pusisi Sufistik)
Hancur luluh tubuh ini, karena kami adalah pecinta-Mu, pejuang cinta-Mu (Hidup paling bermanfaat di muka bumi). Agar hancur luluh tubuh ini dalam kedamaian, dalam ketenangan, dalam kebahagaian yang amat sangat, sehingga kami masuk dalam kematian – hancur luluh tubuh ini – karena Engkau telah memanggil kami untuk pulang. Pulang dan mati, untuk kembali kepada-Mu. Pulang mati bertemu Engkau di alam akhirat, alam kekal, hidup abadi selamanya. Itulah Kebenaran Sejati – Tujuan hidup Sejati. Tobat sejati. Perbuatan Sejati. Manusia Sejati. Tawakkal Sejati. Shalat Sejati. Sang Cinta Sejati. Jalan Yang Lurus, ”Al-shirath al-mustaqim” – Perbuatan dan doa sejati Al-fatihah.

8. Jika Anda tidak percaya adanya reinkarnasi ini, maka hidup Anda sekarang menjadi peluang akhir untuk melakukan perjalanan spritual untuk kembali kepada Tuhan. Jika Anda percaya, perjalanan itu tetap harus dilakukan dengan berbuat kebajikan ”bermanfaat bagi dunia” agar Anda tidak terlahir kembali dalam keadaan yang lebih menderita karena utang-utang dosa kita. Sungguh apa yang kita terima dari orang lain dan perbuatan dosa yang kita lakukan adalah utang. Sedangkan apa yang kita berikan dan perbuatan kebajikan yang kita lakukan adalah investasi untuk kehidupan kita di masa depan, baik untuk saat ini, saat siklus reinkarnasi, maupun modal utama untuk kembali kepada Tuhan, itulah Cinta Sejati, Kebenaran Sejati atau Jalan Yang Lurus.

Jalan telah bertemu Tuhan di muka bumi karena semua ciptaan adalah wajah-wajah dan gambar-Nya. Tapi wajah dan gambar itu adalah bayang-bayang-Nya saja, karena Dialah realitas Yang Tunggal, Yang Ganjil dan Unik (Maha Nyata dan Maha Gaib). Tidak terkatakan, tidak terbilangkan, dan tidak ada lagi kosa kata yang bisa mewakili-Nya serta melampauinya. Maha Nyata di dalam batin manusia. Maha Nyata yang terpatri di dalam hukum-hukum alam (Sunnatullah). Dialah Yang Satu, tidak berubah hukum dan kalamnya. Dialah Yang Ganjil penyebab adanya yang genap, dualitas (alam semesta). Manusia adalah produk langit dan bumi, langit dan bumi mengikuti hukum alam semesta, alam semesta mengikuti hukum Tuhan, hukum Tuhan mengikuti Hukum Dirinya sendiri, ”hukum kewajaran” yaitu Jalan Yang Lurus, jalan yang satu, Yang Ganjil.

9. Jadi Tuhan menciptakan manusia di dunia menurut fitrahnya, ciri-ciri fisik dan biologis alam semesta (raga), buah karmanya (perbuatannya/takdirnya) dan pancaran cahaya Tuhan (Jiwa). Takdir jelas ditentukan oleh manusia sendiri. Nasib ditentukan oleh perjuangan (kerja keras, upaya tiada henti) dan doa (Takwa dan relasi Terhadap Tuhan). Tiada jalan pintas, tiada undian, tiada kebetulan, tiada durian runtuh. Keberuntungan dan mujizat adalah buah kerja keras dan doa. Buah Cintanya kepada Sang Cinta.

Breakwaters_by_mjagiellicz

Hakikat ajaran Islam :

1. Semua menjadi ada dan tercipta karena manifestasi Sang Cinta, Cinta pada diri-Nya.

2. Alam semesta tercipta karena Sang Cinta (Mahabbah), Tuhan, Cinta pada diri-Nya, sehingga manusia ada sebagai pancaran cahanya (mahluk yang sempurna) dan alam semesta adalah sarana bagi manusia untuk kembali kepada-Nya.

3. Untuk itu manusia mengadakan perjanjian dengan Sang Cinta, persaksian sumber awalnya, perjanjian primordialnya dengan Tuhan sebagai Kebenaran Sejati, Jalan Yang Lurus. Sebelum diciptakan untuk dilahirkan di muka bumi.(Alquran). Jadi hidup ini dimulai dengan janji atau niat, maka penuhilah janji itu.
Kekuatan perbuatan ada pada janji, lalu diikuti dengan kedisiplinan/kesabaran untuk memenuhinya. Karena janji itu adalah janji Tuhan, dengan kehendak-Nyalah kita bisa berjanji dan mengikat janji. Ingkar janji, berarti mengingkari kehendak Tuhan. Melawan Tuhan. Makanya, penuhilah janji-janji pribadi kita untuk diri sendiri dan janji-janji kita dengan sesama. Janganlah mudah untuk berjanji, apalagi berjanji untuk perbuatan buruk/jahat. Biarlah orang lain menyalahi janjinya, janganlah kita sedikitpun berniat untuk menyalahi janji. Penuhilah janji kita, kalau dia yang mengingkari maka sabarlah karena dialah yang menanggung resikonya. Kalaupun kita tidak bisa memenuhi janji pada waktunya, karena sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk kita membantu orang lain, maka berilah kabar, buatlah kesepahaman-saling pengertian-untuk kita saling berjanji lagi sebagai penebusnya.

Ingat, berurusan dengan sesama (manusia) dalam kebaikan lebih penting daripada urusan-urusan pribadi kita yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Berurusan dengan banyak orang lebih penting dan mendesak daripada hanya berurusan dengan orang-perorang. Jika kita sedang bekerja, lalu seseorang membutuhkan pertolongan kita secepatnya, maka bantulah, bukankah kita punya banyak waktu dan pandai membagi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kita setelah membantunya.

Bukankah kita semua bersaudara, berasal dari satu, Yang Maha Berkehendak. Berasal dari Tuhan dan sama-sama kita akan kembali kepada-Nya, karena Dialah belahan jiwa kita yang selalu bersuara kebenaran di dalam nurani kita, Maha Nyata dan Maha Gaib keberadaan-Nya di dalam batin kita. Maha Benar ada-Nya di dalam pikiran-pikiran positif kita. Maha Benar ada-Nya di dalam logika kasih sayang kita. Maha Benar ada-Nya di dalam prasangka baik kita. Maha Benar ada-Nya di dalam perbuatan-perbuatan kebajikan kita. Bukankah riwayat hadis mengatakan ”Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku, kepada-Ku.”

Itulah hidup di depan pintu kebenaran Sejati. Kesadaran diri hidup di depan Tuhan. Kehidupan penuh luapan cinta kepada-Nya (Mahabbah), karena Dialah Sang Cinta yang Tunggal, Yang Ganjil-Yang Satu. Dialah pada sifat Yang Satu, sifat Sang Cinta. Karena Cinta-Nya semua hidup, semua ada, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Jadilah pecinta untuk-Nya, mencintai semua ciptaan-Nya. Jadilah pejuang cinta-Nya, agar kita selalu dalam lindungan-Nya – selalu dalam Cinta-Nya. Itulah kekuatan kita yang Maha Dasyat untuk merubah hidup kita, paling bermanfaat bagi sesama, memakmurkan bumi. Itulah janji abadi kita-fitrah kita-dengan Dia. Karena kita adalah pancaran cahaya-Nya. Ada bukan karena tercipta, tapi karena pancaran cahaya-Nya-makhluk paling sempurna-jiwa kita. Kita perlu diciptakan dengan kehendak Cinta-Nya, karena kita akan lahir ke muka bumi-merealisasikan dan membuktikan janji kita-cinta kita semata kepada-Nya. Itulah tugas kita semua menjadi khalifah (wakilnya) di muka bumi.

Bukankah, sumber air adalah lautan samudra, namun kita tidak bisa meminumnya. Dengan proses alam semesta (mengikuti Hukum Tuhan) naik ke udara menjadi uap, menggumpal menjadi awan. Lalu turun menjadi hujan, air turun membasahi bumi, masuk ke dalam tanah kemudiaan bermuara di sumber-sumber mata air yang jernih. Siap untuk kita pakai dengan berbagai keperluan, siap untuk kita proses jadi air minum yang sehat/higenis. Setelah kita pakai lalu kita buang di saluran-saluran air untuk kembali ke lautan samudra. Itulah, perumpamaan yang nyata, ayat-ayat-Nya yang nyata untuk kita jadikan pelajaran/hikmah.

Itulah, hikmah mengapa kita terlahir di muka bumi dan mengapa alam semesta diciptakan. Karena, bumi yang kita pijak, alam semesta yang kita tempati adalah wadah atau tempat kita membersihkan-menyucikan jiwa-dengan jalan, sekali lagi, paling bermanfaat bagi sesama karena kita adalah pecinta-Pejuang Cinta-Nya di muka bumi untuk kembali kepada-Nya.

Itulah Kebenaran. Itulah Jalan Yang Lurus (Al-shirath al-mustaqim). Itulah, Hidup Sejati – Hidup pada Prinsip Kebenaran Sejati – Sang Cinta. Hidup menyatu-manunggal – karena sesungguhnya Dialah yang ada-tiada berakhir dan tiada berawal-abadi selamanya. Semua ciptaannya akan hancur lebur (fana), selain Dia hanya bayang-bayang belaka. Tapi, sekali lagi, kita – jiwa kita – adalah belahan jiwa-Nya, belahan jiwa kita.

Kita adalah Cinta-Nya, maka cintailah Dia semata, agar kita dengan-Nya saling merindukan. Agar jiwa kita dalam bimbingan-Nya untuk kembali menyatu dan hidup abadi/kekal bersama-Nya. Maha Gaib ini nyata dan jelas di mata kita. Lalu mengapa kita berbuat yang bukan-bukan, selalu membuat pilihan hidup dengan bersandar pada pikiran-pikiran negatif/buruk, berburuk sangka – curiga – prasangka buruk. Selalu mengeluh dan menyalahkan orang lain.

Itulah manusia yang ingkar kepada-Nya. Bukankah, kesalahan itu kalau dia memang yang berbuat buruk/jahat, maka orang itu pulalah yang mendapatkan balasan keburukannya. Apapun yang terjadi, berbuat baiklah karena kita sendiri yang akan menerima balasan kebajikan itu sendiri. Setialah pada janji kita, karena balasan kesetiaan itu hanya untuk kebaikan kita sendiri.

Keberuntungan dan petaka, kemudahan dan kesulitan itu sama saja, semua karena kita dan untuk kita sendiri. Sebabnya karena kita, dan akibatnya untuk kita sendiri. Sadarilah, selama nafas masih melekat – selama itu pula kita bersama Tuhan. Selama jiwa kita sadar akan kehadiran-Nya, maka selama itu kita bersama-Nya.
Apapun yang terjadi, apapun hasilnya bukan persoalan. Persoalannya, sudahkah kita berbuat untuk mencapai hasil. Berbuat untuk membuktikan janji-cinta kita. Apapun yang terjadi dan apapun hasilnya, tidak ada yang keliru dan tidak ada yang kebetulan. Semuanya kehendak-Nya karena kita sudah berbuat. Semuanya rencana-Nya dan kitalah memilih untuk mengadakannya dalam perbuatan kita.

Sungguh, Tuhan Maha Pemurah, Maha Pemberi, Maha Ikhlas, Maha Rida, Sang Cinta. Ikutilah jalan jejak Sang Cinta. Bagaimana besok dan apapun yang kita terima hari ini. Tetap tenang, damai dan bahagia. Sabar dan Tawakkal. Pandai dan cerdas bersyukur (memberi dengan ikhlas-tanpa pamrih). Karena Dialah yang Maha Tenang, Maha Bahagia, dan Maha Mendamaikan.

Sungguh, Dia hanya mau bertemu dengan hamba-Nya yang mempunyai jiwa yang tenang, bahagia, dan selalu berdamai dengan sesamanya dalam kebajikan. Bukankah, untuk tidur kita perlu menenangkan dan mengosongkan pikiran, maka kita pun perlu mati dalam ketenangan, agar jiwa kita kembali kepada-Nya. Yaitu, menempuh hidup kita penuh cinta hanya kepada-Nya. Cinta kita pada sesama karena buah cinta kita hanya kepada-Nya.

Kalau kita cinta dunia-penuh angan-angan, penuh hasrat, penuh keinginan dan kesenangan yang tidak bisa dikendalikan. Lalu menjadi orang pelit, kikir, sombong, tidak peduli pada orang yang lagi kesusahan – ego – suka menang dan mementingkan diri sendiri. Tidak peduli pada janji, tidak peduli pada sikap kemanusiaan, tidak peduli membangun persaudaraan dan tidak peduli membangun tali silaturrahmi. Maka, kita akan mati dalam kesusahan. Jiwa (Roh) kita akan sangat susah berpisah dengan raga kita. Kita dalam sakratul maut yang sangat genting, sangat tersiksa, malaikat akan kerja keras mencabut nyawa kita. Seperti tersiksanya kita waktu akan tidur, gelisah tidak bisa tidur, karena kita terlalu memikirkan masalah dunia yang kita hadapi.
Akhirnya, toh kita mati juga. Namun karena semasa hidup kita terlalu cinta apa-apa yang di dunia, maka kita mati untuk menjalani proses penyehatan jiwa untuk terlahir kembali – terlahir di dunia.

Sungguh, Tuhan Maha Pemurah dan Maha Pengampun memberi kesempatan kembali kepada hamba-Nya untuk memberi jalan pengampunan, penebusan dosa, penebusan karma dan penyucian diri kembali di muka bumi, agar dapat berjuang kembali untuk kembali kepada-Nya.

Siklus hidup-mati-hidup-mati, diciptakan Tuhan buat manusia sama dengan ketetapan Tuhan dengan alam tumbuhan. Contohnya biji mangga (mati), karena perlakuan manusia, maka biji itu bisa ditanam dan tumbuh kembali menjadi pohon mangga. Kemudian berbuah, buah yang rusak karena dimakan binatang atau dimakan manusia, maka tinggal bijinya. Pohonnya bisa mati, jika ditebang manusia. Tapi, bijinya bisa tumbuh kembali menjadi pohon, jika manusia mengusahakannya. Tapi, karena manusia yang berbuat tentu tergantung dari usahanya itu. Jadi biji mangga itu bisa hidup-mati-hidup mati karena perlakuan manusia.

Demikianlah pula kita manusia, hidup-mati-hidup-mati diciptakan Tuhan untuk manusia. Namun, karena Tuhan itu Maha Adil, maka kita terlahir kembali sesuai fitrah kita, dimana karma itu terjadi atau kita perbuat. Artinya tentu kita terlahir diperut ibu sesuai karma kita, tentu bukan perut ibu yang sama. Tetapi diperut ibu yang sesuai dengan buah karma kita. Buah karma kita atau amal perbuatan buruk dan baik yang membawa kita pada pilihan, kita akan dilahirkan di perut ibu siapa. Kalau buah karma kita A, maka kita akan lahir dari perut ibu A sesuai sifat gen ibu dan bapak yang A. Kemudian kita lahir sebagai bayi tentu dengan model A pula.
”Manusia dilahirkan sesuai fitrahnya.” (Hadis) inilah yang dimaksud oleh pengertian makna dari hadis ini.

Kata ”Fitrah” itu dari kata fa-tha-ra yang artinya menciptakan atau menjadikan. Jadi, manusia dilahirkan menurut ”fitrahnya”, artinya kata ”….nya = dalam fitrahnya” berarti manusia diciptakan atau dilahirkan kembali sesuai buah karmanya, sesuai keinginannya atau sesuai hasil perbuatan pada kehidupan di dunia sebelumnya, sebelum terlahir kembali melalui perut ibu.. Namun, dalam kehidupan kita, kita diingatkan oleh Tuhan untuk kembali ke fitrah kita (QS. Al-A’raf 7 : 172). Yaitu perjanjian kita, ”bahwa Engkaulah Tuhanku, persaksian ini bermakna ”Engkaulah tempat kembaliku”. Bukankah sebelum Alquran diturunkan, telah diturunkan wahyu dalam kitab ”kejadian” atau kitab ”perjanjian” yang diamanahkan kepada Nabi Isa,as. Bukankah dia juga Rasul kita. Orang Nasrani saat ini (Kristen) menyebutnya kitab ”injil’ perjanjian lama dan perjanjian baru.

Jadi, Tuhan menyeru kita ”kembali ke fitrah”, agar kita jangan berlarut-larut, tenggelam di dunia bersiklus hidup-mati-hidup-mati. Karena, jika itu tidak berakhir, maka kita akan hancur lebur dan tidak akan pernah selamat lagi, jika kiamat (pralaya) telah datang menimpa kita. Jadi, marilah bertekad kita rayakan hidup penuh cinta.

4. Agama diwahyukan dalam kitab melalui rasul-rasul-Nya sebagai pedoman/alat pembelajaran untuk mengabarkan tugas dan fungsi manusia (Misi), serta tujuan hidupnya (Visi).

5. Agama sebagai pedoman adalah untuk mengabari manusia untuk belajar pada pengalaman-pengalaman manusia terdahulu dan belajar dari ayat-ayat alam semesta (”perhatikanlah alamat-alamat dan dengan bintang mereka mendapat petunjuk” Q.S. 16 : 16) . Mengajari manusia bagaimana skill (kemampuan) yang harus dimiliki agar dapat menjalankan Misi dan Visinya di muka bumi.

6. Misi Manusia adalah; pada fungsi, adalah sebagai khalifah (wakil Tuhan) di bumi. Pada tugasnya adalah memelihara dan memakmurkan bumi. Misi ini dibebankan kepada manusia karena manusia adalah mahluk ciptaan-Nya yang sempurna. Ditugasi untuk memakmurkan bumi, karena bumi adalah tempat atau jalan untuk kembali pada-Nya.

7. Visi Manusia adalah hidup bersama Tuhan, karena inilah ”Jalan Yang Lurus” untuk sampai pada tujuan hidup sejati manusia; yaitu kembali kepada-Nya. Kembali ketempat asalnya yang sejati pula. Air dari laut, maka akan kembali kelaut. Dari sebuah biji akan tumbuh menjadi pohon dan berbuah, setelah buahnya rusak atau karena dimakan, maka akan tinggal menjadi sebuah biji lagi.

8. Jadi hakikat manusia hidup adalah ”bermanfaat” bagi manusia dan lingkungan hidupnya (manusia dan alam). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya (Hadis).

9. Agama diturunkan melalui tangan-tangan rasul-Nya, agar manusia mempunyai kekuatan dan kemampuan bagaimana cara-cara yang baik untuk banyak “bermanfaat” bagi sesamanya untuk sampai tujuan hidup yang sesungguhnya. Bukankah ajaran Islam adalah ajaran “bersyukur” (ajaran penuh pemberian/berkreasi dengan ikhlas). Memberi dengan pamrih adalah sikap perilaku yang tidak bersyukur. Tidak bersyukur disebut musyrik karena sikap “ego” tidak mau kalah, mau menang sendiri. Sedangkan “kafir” adalah orang-orang yang menghalang-halangi orang berbuat kebajikan atau bermanfaat bagi sesama. Kufur adalah orang yang menyesali hidupnya, prosesnya adalah menyesali apa yang menimpa dirinya. Semakin hamba-Ku bersyukur, maka semakin bertambah nikmat yang Kuberikan (Alquran). Nikmat yang paling puncak adalah hidup bersama Tuhan di alam Tuhan. Tentu sebelum itu kita harus hidup bersama Tuhan di dunia dulu baru bisa mencapai-Nya. Untuk kembali hidup bersama Tuhan di alam Tuhan.

10. Maka untuk berjumpa dengan-Nya untuk kembali kepada-Nya, dimana Dialah Yang Satu pada sifat Cinta. Cintailah Dia satu-satunya dalam hidup anda. Tidaklah beriman dari kalian semua hingga Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. (Hadis) dan ( QS. 9 : 24 ). Sikap hidup inilah yang memberi daya kita untuk memiliki sifat pengasih, penyayang, pemurah, dan pemaaf, sehingga jadilah kita sebagai manusia yang pandai bersyukur, menciptakan kemakmuran dan kemaslahatan bersama. Itulah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Kalaupun itu cinta, maka cinta kita selain dari Dia, Tuhan, itu hanya buah yang kita dapat dari cinta kita hanya kepada-Nya semata. Kita wajib mencintai semua ciptaannya, karena atas kehendak-Nyalah semua ada, tercipta. Memusuhi, membenci ciptaan-Nya apalagi merusaknya itulah perbuatan Syirik. Itulah dalam Alquran yang disebut sebagai orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Jika seseorang berbuat jahat (zalim) sama kita, maka berilah balasan sekedar untuk menyadarkannya bahwa perbuatannya itu bisa merugikan dirinya sendiri. Jika dia tidak mau merubah sikap dan perilakunya, sabarlah menghadapinya-diam itu adalah emas-Tuhan bersama orang-orang yang sabar (Jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu-Alquran). Dalam kesabaran itu, berilah tauladan. Berarti kita telah menyerahkan persoalan itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang berhak memberi balasan dan pemberi balasan yang baik.

Itulah salah satu proses hidup bersama Tuhan di dunia, sebuah proses untuk bertemu Tuhan di Muka Bumi-modal kita untuk bertemu dengan-Nya di akhirat-kembali kepada-Nya. Sekali lagi, mari kita sadari ! itulah ”Jalan Yang Lurus” ; jalan untuk kembali kepada-Nya.

Bukankah apa yang kita lakukan di BKM dan P2KP adalah salah satu “Jalan Yang Lurus” untuk kembali kepada-Nya seperti jalan-jalan lain (Profesi dan peran kita dimasyarakat) yang telah kita pilih dan jalani dalam hidup kita selama ini. Wallahualam..

Sesungguhnya, ”Jalan Yang Lurus” itu nyata di depan mata dan di dalam diri kita.
Diri kita dan apa yang kita dengar dan lihat adalah wajah-wajah Tuhan.

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya. (Hadis)
Karena sesama kita, seperti diri kita, lingkungan hidup kita, dan alam semesta adalah wajah-wajah Tuhan. Gambar Tuhan. Ada karena kehendak Tuhan. Itulah Kebenaran.

”Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah,
maka Allah pun mencintai pertemuan dengan Dia.
Barang siapa yang tidak mencintai pertemuan dengan Allah,
maka Dia pun tidak mencintai pertemuan dengan-Nya.”
(H.R. Bukhari)

Terima Kasih.Wassalam..
————-
Disadur dari, Achmad Chodjim. 2006. (Penulis Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga). Rahasia Sepuluh Malam. Rayakan Hidup dengan Penuh Cinta. Serambi; Jakarta. Penyadur, M.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.