
Hai..! Terima Kasih Sudah Berkunjung Di Blog Ini, Sudilah Anda Menorehkan Kalimat Sebagai Tanda Awal Persahabatan Dan Jalinan Silaturrahmi
Kita Juga Bisa kenalan Melalui FB :
Prelude :
MANUSIA ADALAH SUBSTANSI ALAM SEMESTA
۩
…..manusia adalah hal besar; segalanya telah tertuliskan di dalam dirinya, tetapi ‘hijab’ dan ‘kekaburan’ menghalanginya untuk membaca pengetahuan yang telah dia miliki di dalam dirinya. ‘hijab’ dan ‘kekaburan’ itu berbentuk kesibukan, tipu daya duniawiyah, dan hasrat. Maka, meskipun semua hal itu terletak tersembunyi di dalam ‘kegelapan’, di belakang ‘hijab’, manusia dapat membaca sesuatu dan ia sadar dengan apa yang dia baca. Pertimbangkan betapa ‘sadarnya’ dia, dan pengetahuan yang telah dia singkapkan membuat hijab terangkat dan kegelapan menghilang. Segala perbuatan seperti berdagang, menjahit, membangun, bertani, tukang pandai besi, astronomi, kesehatan dan lain-lain, telah dilakukan oleh manusia dan semua berasal dari dalam dirinya, tidak dari bawah gumpalan batu dan lumpur.
Diriwayatkan ada seekor gagak yang mengajari manusia bagaimana mengubur yang mati (kisah kabil membunuh habil), tetapi sebenarnya cara penguburan itu berasal dari pantulan yang dilemparkan manusia pada gagak. Itu adalah dorongan manusia itu sendiri yang menyebabkan gagak melakukannya, karena binatang adalah bagian dari manusia. Bagaimana mungkin yang ‘bagian’ mengajari yang inti ? demikian pula, apabila manusia ingin menulis dengan tangan kirinya, dia mesti mengambil pena, tetapi, tidak peduli betapa pun kuat niat hatinya, tangannya akan tetap goyah begitu menulis. Meski demikian, tangan mau menulis sesuatu karena perintah dari hati……………..

Mu’inuddin dan Ainuddin
Apabila seorang Mu’inuddin (“penolong agama”), dia tidak bisa menjadi Ainuddin (“inti agama”) dengan menambahkan huruf ‘m’. Menambahkan dengan maksud untuk menyempurnakan, pada kasus ini menjadi pengurangan. Penambahan huruf ‘m’ adalah pengurangan.
Meskipun enam jari melebihi jumlah normal, penambahan itu berarti pengurangan. “Satu” (ahad) adalah kesempurnaan, “nabi” (ahmad) masih belum mencapai kesempurnaan. Apabila huruf ‘m’ hilang dari ahmad dia akan menjadi kesempurnaan sepenuhnya (ahad). Yakni, Tuhan mencakup segala sesuatu. Penambahan apa pun yang engkau buat untuk Dia adalah pengurangan.
Satu berada di seluruh nomor. Tanpa itu tiada nomor yang mungkin. Nomor berikutnya setelah nomor satu, telah meniadakannya itulah hijab. Jadi semua berasal dari satu akan kembali menjadi satu. Kemanapun air mengalir akan kembali ke laut juga.
Wallahualam.
2 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal







blog dan tulisannya keren mas ikhwan.
“satu berada di seluruh nomor.Tanpa itu tiada nomor yang mungkin”. Bagaimana kalau aku lebih percaya pada nol?…nol berada di seluruh nomor…semuanya ketika bertemu dengan nol, cuma ada dua kemungkinan, melebur menjadi nol atau tetap utuh seperti angka semula..
Terimakasih atas info2 nya..bagus dan mencerahkan.
Setuju : “tanpa satu tiada nomor yang mungkin”, seperti yg pernah saya baca dari salah satu buku karangan DR.Ali Syari’ati: 1 dikuti 0 = 10 , 1 dikuti 00 = 100, 1 diikuti 000 = 1000 dst, bayangkan tanpa satu, apalah artinya sekian banyak nol??