Mistisisme Jalan Menuju Keharmonisan Ummat Beragama (2)

One_Way_by_LimpidD

Orang baik mencintai semua orang sebagai kebaikan, tidak atas nama orang lain tetapi atas namanya sendiri, kalau-kalau bayangan kebencian, kejijikan muncul di dalam pandangan mereka. Karena tidak ada pilihan di dunia ini selain memikirkan orang-orang, orang baik telah berusaha keras untuk memikirkan orang lain sebagai sahabat hingga kebencian tidak merusakkan jalan mereka.

Maka, segala sesuatu yang engkau lakukan dengan hormat kepada orang dan setiap sebutan yang engkau buat tentang mereka, baik atau buruk, semuanya kan kembali kepadamu. Maka tuhan mengatakan, “dia yang berbuat kebenaran, melakukan untuk manfaat jiwanya sendiri; dan dia yang melakukan kejahatan, melakukannya untuk hal yang sama” , dan “siapa pun pernah berbuat kejahatan sebesar semut sekalipun, akan mengalami hal yang sama”.(Saripati semua isi kitab) .

Pengalaman kaum mistikus menjelajah wilayah esoteris agama-agama lazim dikenal sebagai pengalaman keagamaan (religious experience). Peter L Berger dalam The Heretical Imperative: Contemporary Possibilies of Religious Affirmation (1980), menyebut adanya dua tipe pengalaman keagamaan. Tipe pertama ditandai confrontation with the divine dan tipe kedua ditandai interiority of the divine. Tipe pertama disebut “konfrontasi” dan tipe kedua disebut “interioritas.”

Dalam konfrontasi, Tuhan dijumpai sebagai realitas yang sama sekali transenden dalam hubungan dengan manusia, yang berhadapan dari luar dengan manusia; Tuhan dan manusia dipolarisasikan secara tajam. Dalam interioritas, yang ilahi ditemukan dalam kedalaman kesadaran manusia sendiri. Konfrontasi menekankan transendensi Tuhan dan interioritas menekankan imanensi Tuhan. Dua tipe ini tidak mesti ada dalam bentuk yang murni secara empiris; keduanya saling merembes, dan terdapat visi-visi yang bercampur dan berkompromi.

John Hick dalam Religious Pluralism (1984) juga membagi pengalaman keagamaan menjadi dua tipe. Pertama, pengalaman tentang Ketuhanan, atau Tuhan, Yang Riil, sebagai personal. Kedua, pengalaman tentang Yang Absolut, Yang Riil, sebagai non-personal. Meski demikian, menurut Hick, Yang Riil sebagai yang personal dialami sebagai personae ilahi yang berbeda dalam tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda, seperti Tuhan Bapa, Adonai, Allah, Siwa, Krishna, dan lain-lain.

Sementara Yang Riil sebagai impersonae ilahi dialami secara sama dalam tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda seperti Brahman, Dharma, Tao, Nirwana, Sunyata, dan lain-lain. Artinya, pengalaman mistik mengisyaratkan persamaan di antara para mistikus yang berasal dari berbagai tradisi keagamaan untuk menemukan Tuhan Yang Satu dan Sama.

Dalam konteks ini, toleransi dan keramahan mistisisme terhadap agama-agama lain terejawantahkan dalam dialognya yang mendalam dengan agama-agama lain itu. Para mistikus memandang, dialog bertujuan tidak hanya untuk memahami agama-agama lain dan menciptakan kerukunan, tetapi juga untuk memperkaya, menyuburkan, dan memperdalam pengalaman keagamaan dan spiritual. Para mistikus berbeda dengan kaum eksklusivis fanatik militan yang menghindari dialog karena dialog, menurut kaum fanatik-eksklusif, berbahaya bagi keyakinan, akidah, dan iman mereka. Bagi para mistikus, dialog bukanlah “pantangan” yang harus dijauhi, tetapi merupakan “makanan” yang harus dinikmati. Mereka amat terbuka kepada tradisi-tradisi keagamaan lain tanpa kehilangan identitas asli mereka dan tanpa jatuh ke dalam sinkretisme.

Hazrat Inayat Khan (1882-1927), seorang sufi India, adalah tokoh dialog mistik-spiritual yang amat berani. Ia sama sekali tidak ragu melakukan pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama-agama lain. Ini dilakukan karena ia percaya, semua agama pada hakikatnya adalah satu, karena hanya ada satu Tuhan dan satu Kebenaran. Bentuk agama-agama yang berbeda, menurutnya, seperti laiknya air yang selalu merupakan unsur yang sama dan tak berbentuk: ia hanya mengambil bentuk saluran atau bejana yang menahannya dan yang digunakan sebagai tempatnya.

Air mengubah namanya menjadi sungai, danau, laut, arus, atau kolam dan ia sama dengan agama: kebenaran esensial adalah satu, tetapi aspek-aspeknya berbeda. Orang-orang yang berperang karena bentuk-bentuk luar akan selalu terus-menerus berperang, tetapi mereka yang mengakui adanya kebenaran batin, tidak akan berselisih dan dengan demikian akan mampu mengharmonikan seluruh umat dari seluruh agama.

Inayat Khan amat menekankan kesatuan. Kesatuan adalah syarat mutlak untuk mencapai kehidupan yang benar. Menurutnya, tugas agama adalah untuk mengembangkan jiwa kesatuan, dalam pengetahuan tentang Tuhan dan cinta kepada-Nya. Karena itu, satu-satunya kajian bermanfaat yang harus dilakukan adalah yang menumbuhkan kesadaran akan Tuhan dan akan kesatuan, pertama kali dengan Tuhan, kemudian dengan diri dan dengan segala sesuatu.

Oleh karena itu, kita perlu terus meningkatkan kesadaran bahwa keberagamaan pada hakikatnya adalah penerimaan nilai-nilai, atau institusi-institusi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Namun, dalam kenyataannya manusia tidak lahir dalam ruang yang hampa budaya dan hampa agama. Karena itu, keberagamaan bagi sebagian besar penganut agama apa pun tidak bermula dari pilihan bebas. Ia lahir dari proses pewarisan ultimate value dari generasi ke generasi.

Tidak mengherankan bila masalah agama dan keberagamaan merupakan masalah peka di negara kita yang majemuk. Bagi masyarakat Indonesia, penumbuhan kesediaan untuk saling memahami dan menghormati anutan dan keyakinan masing-masing pihak menjadi amat penting. Ia merupakan tuntutan objektif yang tidak mungkin kita nafikan bila kita menghendaki kerukunan hidup di antara umat berbagai agama tidak tinggal sebagai gagasan yang mandul dan steril. Kemajemukan, keterbukaan, dan mobilitas masyarakat kita tidak memungkinkan lagi tegak dan kokohnya tembok-tembok eksklusivisme di antara umat berbagai agama.

Baik orang yang tidak baik dan orang yang baik, sama-sama mengangungkan tuhan. Tuhan pernah berfirman bahwa siapa pun mengikuti jalan yang benar, melakukan kepatuhan, dan setia pada hukum ilahi, dia akan mendapatkan kenikmatan, pencahayaan, dan kehidupan agung.

Dia juga berfirman bahwa siapapun yang melakukan hal sebaliknya, akan menemukan kegelapan, ketakutan, dan lubang neraka serta kesengsaraan. Karena baik orang baik dan tidak baik melakukan sesuai dengan itu, dan karena janji tuhan benar-benar muncul, tidak lebih dan tidak kurang, maka keduanya mengagungkan tuhan, satu pihak dengan “bahasa” yang satu dan yang lain dengan bahasa yang lainnya. (Saripati semua isi kitab) wallahualam.

salam dialog

2 Komentar

  1. Yah, seperti yang saya amini dan imani sejak tahun 1992. Bermula memang dari melihat keaneka-ragaman keberagamaan yang ada di bumi, khususnya Indonesia tercinta.

    Dalam pemahaman yang saya alami, MISTIK adalah bagaimana menemukan siapa aku dihadapan sang Pencipta, melepaskan diri dari apa agamaku, bangsaku ataupun bahasaku. Kutemukan bahwa agama, bangsa, dan pengelompokan pengelompokan lainnya adalah wadah yang dapat mengekang kalau kita memposisikan diri menjadi wadah itu sendiri. Bila kita tetap pada hakekat kita sebagai “air”, maka air dalam bejana, dalam aliran sungai, dalam ceruk danau atau apapun wadah yang menampungnya, adalah air yang sama.

    Salah satu wadah universal, adalah bumi kita sendiri. Melihat dan merasakan bagaimana keburukan yang semakin menjadi, mungkin akan membuat kita putus asa, frustasi bahkan bisa saja kita akan menjadikan keburukan itu sempurna, itu kalau kita menjadi bagian dari dunia ini. Pada hakekatnya, kita berbeda dengan dunia ini, sehingga saya mampu berkata: bahwa dunia ini indah hanya karena kita memandangnya indah.
    Wadah lainnya, kecil namun universal adalah tubuh kita. Inilah wadah yang paling mudah menjebak kita. Tidak seperti wadah organisasi atau kelompok pergaulan, hari ini saya di kelompok A, bosan dan jenuh, besok berpindah ke kelompok B. Tetapi tubuh adalah wadah selama hayat di kandung badan. Kadangkala, bahkan mungkin telah menjadi pemahaman, kita adalah tubuh kita.
    Zat Mulia itu, laiknya air, ditempatkan dalam bejana, dalam kolam, dalam aliran sungai, dalam gelas, dalam tubuh yang berdaging. Kolam, danau, maupun samudra, tidak hanya mengandung air. Ada jurang, tebing, kerikil dan bahkan lumpur. Apakah kita adalah jurang, tebing kerikil dan lumpur?? ataukah kita adalah air yang sedang dalam siklus, mengalir di cela-cela jurang, tebing, kerikil dan lumpur dari sungai kehidupan??

    Dalam mistik, kutemukan diriku yang kebetulan diletakan dalam suatu tubuh, memiliki kelamin, tinggal di salah satu desa, kecamatan, kota, propinsi, negara; meyakini satu agama, mengecap pendidikan pada tingkatan tertentu, terlibat pada organisasi atau kelompok, berinteraksi dengan berbagai wadah.
    Sekaligus juga dalam satuan waktu yang sama, kumelihat zat Mulia lainnya yang ditempatkan pada wadah yang mirip seperti yang kutempati.

    Kesimpulannya: Keaneka-ragaman hanyalah wadah. Yang hakiki adalah kita yang tercipta dari sang Mulia, adalah sama. Sama-sama untuk bertanggung jawab dalam wadah yang beraneka-ragam

    • maksih mas adolf tambahan pengetahuannya, smg dialog ini bermanfaat jua adanya, slm


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.