Mistisisme ialah aktiviti untuk mendapat ilmu atau kekuatan tertentu, melalui cara yang ghaib seperti bermeditasi, bertapa, berkhalwat dan lain-lain lagi. Amalan ini adalah dengan anggapan bahawa terdapat ilmu pengetahuan yang tidak boleh didapati melalui bahasa, sebaliknya harus melalui aktiviti-aktiviti mistisme ini.
Rasulullah dalam masa awal kenabian menurut riwayat melakukan aktivitas khalwat di Gua Hira selama 40 hari, wahyu pertama Quran ‘Iqra’ pun turun di dalam proses ini. Dalam puasa bulan ramadhan 10 hari menjelang akhir ramadhan dianjurkan melakukan ikhtikaf, suatu aktivitas berkhalwat yang dilakukan dengan media masjid.
Mistisisme Kristen adalah filsafat dan praktik tentang pengalaman langsung bersama Tuhan Allah. Meskipun harus diingat bahwa ‘pengalaman’ adalah suatu istilah yang hangat diperdebatkan dalam pembicaraan mengenai mistisisme, dan bahwa pengalaman yang dipahami semata-mata sebagai keadaan atau kejadian psikologis dapat dipertikaikan. Dalam konteks Kristen mistisisme biasanya dipraktikkan melalui tiga disiplin, yaitu doa (termasuk meditasi Kristen dan kontemplasi), berpuasa (termasuk bentuk-bentuk pantang dan penyangkalan diri yang lainnya), dan pemberian sedekah, yang kesemuanya dibicarakan oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit (Matius Pasal 5-7). Bentuk-bentuk mistisisme lainnya meliputi partisipasi dalam ibadah ekstatik dan penggunaan entheogen. Orang Kristen percaya bahwa Allah tinggal di dalam diri orang percaya melalui Roh Kudus, dan oleh karenanya semua orang Krisen dapat secara langsung mengalami Allah.
ANNEMARIE Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam (1975) mendefinisikan mistik sebagai cinta kepada Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan mistik sejati dari sekadar asketisme adalah cinta. Cinta ilahi membuat si pencari mampu menyandang, bahkan menikmati, segala sakit dan penderitaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya untuk mengujinya dan memurnikan jiwanya. Cinta ilahi bisa mengantarkan jiwa sang mistikus ke Hadirat Ilahi “bagaikan elang yang membawa mangsanya,” yakni memisahkannya dari segala yang tercipta dalam ruang dan waktu.
Dalam keadaan semacam ini, para mistikus dari seluruh tradisi dan agama bertemu dalam Yang Mutlak, mereka mampu menembus batas-batas eksoterisme agama yang sering kali bersifat keras dan eksklusif menuju esoterisme agama yang sejuk, damai, dan inklusif. Bagi kaum mistik, agama adalah kehangatan, kasih sayang, yang merengkuh setiap orang, seluruh kehidupan, seluruh dunia tanpa ada “jika” dan “tetapi”, tanpa batasan dan pengecualian. Setiap orang, segala hal adalah saudara.
Garis-garis yang memisahkan wilayah eksoteris agama-agama tidak mengkonotasikan kedekatan dan kejauhan, baik atau buruk-seperti orang-orang yang menggunakan bahasa berbeda, tetapi memiliki pesan yang sama. Dalam kondisi seperti ini jiwa manusia bisa merengkuh seluruh umat manusia dan kehidupan di mana pun, selain di depan, dan di belakang setiap saat. Mungkin sangat sulit untuk mencintai seluruh umat manusia dan merasakan kedekatan mereka meski dalam kenyataannya mereka jauh. Maka, kita harus ingat, nilai kekerasan aktif, tindakan perdamaian, tidak datang secara otomatis. Ia menuntut dibuangnya rasa kebencian pada mereka yang dekat dan jauh; melepaskan sentimen-sentimen primitif dan sense of chosenness kita, menghilangkan anggapan salah terhadap agama orang lain: menghapus pandangan bahwa dunia akan lebih baik tanpa Anda. Wallahualam.
2 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal







Syirik mas….. hati hati
tulisan yang bagus ………setuju sekali.