Mistisisme, Toleransi, dan Kesatuan Agama

Strings_by_alexiuss

ANNEMARIE Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam (1975) mendefinisikan mistik sebagai cinta kepada Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan mistik sejati dari sekadar asketisme adalah cinta. Cinta ilahi membuat si pencari mampu menyandang, bahkan menikmati, segala sakit dan penderitaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya untuk mengujinya dan memurnikan jiwanya. Cinta ilahi bisa mengantarkan jiwa sang mistikus ke Hadirat Ilahi “bagaikan elang yang membawa mangsanya,” yakni memisahkannya dari segala yang tercipta dalam ruang dan waktu.

Dalam keadaan semacam ini, para mistikus dari seluruh tradisi dan agama bertemu dalam Yang Mutlak, mereka mampu menembus batas-batas eksoterisme agama yang sering kali bersifat keras dan eksklusif menuju esoterisme agama yang sejuk, damai, dan inklusif. Bagi kaum mistik, agama adalah kehangatan, kasih sayang, yang merengkuh setiap orang, seluruh kehidupan, seluruh dunia tanpa ada “jika” dan “tetapi”, tanpa batasan dan pengecualian. Setiap orang, segala hal adalah saudara. Garis-garis yang memisahkan wilayah eksoteris agama-agama tidak mengkonotasikan kedekatan dan kejauhan, baik atau buruk-seperti orang-orang yang menggunakan bahasa berbeda, tetapi memiliki pesan yang sama.

Dalam kondisi seperti ini jiwa manusia bisa merengkuh seluruh umat manusia dan kehidupan di mana pun, selain di depan, dan di belakang setiap saat. Mungkin sangat sulit untuk mencintai seluruh umat manusia dan merasakan kedekatan mereka meski dalam kenyataannya mereka jauh. Maka, kita harus ingat, nirkekerasan aktif, tindakan perdamaian, tidak datang secara otomatis. Ia menuntut dibuangnya rasa kebencian pada mereka yang dekat dan jauh; melepaskan sentimen-sentimen primitif dan sense of chosenness kita, menghilangkan anggapan salah terhadap agama orang lain: menghapus pandangan bahwa dunia akan lebih baik tanpa Anda.

Pengalaman keagamaan

Pengalaman kaum mistikus menjelajah wilayah esoteris agama-agama lazim dikenal sebagai pengalaman keagamaan (religious experience). Peter L Berger dalam The Heretical Imperative: Contemporary Possibilies of Religious Affirmation (1980), menyebut adanya dua tipe pengalaman keagamaan. Tipe pertama ditandai confrontation with the divine dan tipe kedua ditandai interiority of the divine. Tipe pertama disebut “konfrontasi” dan tipe kedua disebut “interioritas.”

Dalam konfrontasi, Tuhan dijumpai sebagai realitas yang sama sekali transenden dalam hubungan dengan manusia, yang berhadapan dari luar dengan manusia; Tuhan dan manusia dipolarisasikan secara tajam. Dalam interioritas, yang ilahi ditemukan dalam kedalaman kesadaran manusia sendiri. Konfrontasi menekankan transendensi Tuhan dan interioritas menekankan imanensi Tuhan. Dua tipe ini tidak mesti ada dalam bentuk yang murni secara empiris; keduanya saling merembes, dan terdapat visi-visi yang bercampur dan berkompromi.

John Hick dalam Religious Pluralism (1984) juga membagi pengalaman keagamaan menjadi dua tipe. Pertama, pengalaman tentang Ketuhanan, atau Tuhan, Yang Riil, sebagai personal. Kedua, pengalaman tentang Yang Absolut, Yang Riil, sebagai non-personal. Meski demikian, menurut Hick, Yang Riil sebagai yang personal dialami sebagai personae ilahi yang berbeda dalam tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda, seperti Tuhan Bapa, Adonai, Allah, Siwa, Krishna, dan lain-lain. Sementara Yang Riil sebagai impersonae ilahi dialami secara sama dalam tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda seperti Brahman, Dharma, Tao, Nirwana, Sunyata, dan lain-lain. Artinya, pengalaman mistik mengisyaratkan persamaan di antara para mistikus yang berasal dari berbagai tradisi keagamaan untuk menemukan Tuhan Yang Satu dan Sama.

Dalam konteks ini, toleransi dan keramahan mistisisme terhadap agama-agama lain terejawantahkan dalam dialognya yang mendalam dengan agama-agama lain itu. Para mistikus memandang, dialog bertujuan tidak hanya untuk memahami agama-agama lain dan menciptakan kerukunan, tetapi juga untuk memperkaya, menyuburkan, dan memperdalam pengalaman keagamaan dan spiritual. Para mistikus berbeda dengan kaum eksklusivis fanatik militan yang menghindari dialog karena dialog, menurut kaum fanatik-eksklusif, berbahaya bagi keyakinan, akidah, dan iman mereka. Bagi para mistikus, dialog bukanlah “pantangan” yang harus dijauhi, tetapi merupakan “makanan” yang harus dinikmati. Mereka amat terbuka kepada tradisi-tradisi keagamaan lain tanpa kehilangan identitas asli mereka dan tanpa jatuh ke dalam sinkretisme.

Kesatuan dan perbedaan agama-agama

Hazrat Inayat Khan (1882-1927), seorang sufi India, adalah tokoh dialog mistik-spiritual yang amat berani. Ia sama sekali tidak ragu melakukan pengembaraan spiritual ke dalam jantung agama-agama lain. Ini dilakukan karena ia percaya, semua agama pada hakikatnya adalah satu, karena hanya ada satu Tuhan dan satu Kebenaran. Bentuk agama-agama yang berbeda, menurutnya, seperti laiknya air yang selalu merupakan unsur yang sama dan tak berbentuk: ia hanya mengambil bentuk saluran atau bejana yang menahannya dan yang digunakan sebagai tempatnya. Air mengubah namanya menjadi sungai, danau, laut, arus, atau kolam dan ia sama dengan agama: kebenaran esensial adalah satu, tetapi aspek-aspeknya berbeda. Orang-orang yang berperang karena bentuk-bentuk luar akan selalu terus-menerus berperang, tetapi mereka yang mengakui adanya kebenaran batin, tidak akan berselisih dan dengan demikian akan mampu mengharmonikan seluruh umat dari seluruh agama.

Inayat Khan amat menekankan kesatuan. Kesatuan adalah syarat mutlak untuk mencapai kehidupan yang benar. Menurutnya, tugas agama adalah untuk mengembangkan jiwa kesatuan, dalam pengetahuan tentang Tuhan dan cinta kepada-Nya. Karena itu, satu-satunya kajian bermanfaat yang harus dilakukan adalah yang menumbuhkan kesadaran akan Tuhan dan akan kesatuan, pertama kali dengan Tuhan, kemudian dengan diri dan dengan segala sesuatu. (Kautsar Azhari Noer, 1998).

Oleh karena itu, kita perlu terus meningkatkan kesadaran bahwa keberagamaan pada hakikatnya adalah penerimaan nilai-nilai, atau institusi-institusi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Namun, dalam kenyataannya manusia tidak lahir dalam ruang yang hampa budaya dan hampa agama. Karena itu, keberagamaan bagi sebagian besar penganut agama apa pun tidak bermula dari pilihan bebas. Ia lahir dari proses pewarisan ultimate value dari generasi ke generasi.

Tidak mengherankan bila masalah agama dan keberagamaan merupakan masalah peka di negara kita yang majemuk. Bagi masyarakat Indonesia, penumbuhan kesediaan untuk saling memahami dan menghormati anutan dan keyakinan masing-masing pihak menjadi amat penting. Ia merupakan tuntutan objektif yang tidak mungkin kita nafikan bila kita menghendaki kerukunan hidup di antara umat berbagai agama tidak tinggal sebagai gagasan yang mandul dan steril. Kemajemukan, keterbukaan, dan mobilitas masyarakat kita tidak memungkinkan lagi tegak dan kokohnya tembok-tembok eksklusivisme di antara umat berbagai agama.
Tentu saja gagasan dan usaha untuk menghilangkan sama sekali perbedaan-perbedaan yang dimiliki agama-agama adalah tidak realistik dan mustahil.

Perbedaan itu nyata ada, kalau tidak, kita tidak akan memiliki ungkapan jamak: agama-agama. Sebaliknya, kita tidak bisa mengingkari adanya persamaan, sebab kalau tidak, kita tidak akan menyebutnya dengan ungkapan yang satu: agama (Djohan Efendi, 1985).

Oleh karena itu, kemampuan menumbuhkan dan mengembangkan kerukunan hidup di antara umat berbagai agama merupakan salah satu tolok ukur kedewasaan beragama. Kecenderungan untuk saling belajar dalam dan dari kalangan berbagai agama, dalam bentuk dialog dan solidaritas kemanusiaan, harus terus dipupuk hingga gejala saling mencurigai kian menyusut. Sebab kebangkitan kesadaran beragama bisa saja menimbulkan ketegangan dalam hubungan antarkelompok berbagai agama, lebih-lebih dalam suatu masyarakat di mana berbagai agama hidup dan berkembang dalam keadaan berdampingan sekaligus persaingan sebagai saudara.

Untuk bisa memandang umat dari agama-agama lain sebagai tetangga, teman, bahkan saudara, setidaknya diperlukan dua hal.

Pertama, kita harus memandang para pemeluk agama lain sebagai manusia yang juga menghadapi persoalan yang sama seperti kita: kita dihadapkan pada persoalan krisis nilai, proses dehumanisasi, ketidakpastian masa depan, konflik, bencana alam, dan tantangan lain yang bisa dihadapi bersama dengan landasan kesadaran kemanusiaan dan semangat persaudaraan.

Kedua, kita harus menyingkirkan dari pikiran kita seluruh prasangka yang membuat pikiran kita tidak peka dan tidak siap menerima wawasan-wawasan baru yang lebih segar dan berbeda dengan wawasan lama kita. Jika kita mengesampingkan pikiran-pikiran kita yang telah terbentuk sebelumnya mengenai agama-agama lain, dan memandang agama-agama lain sebagai jalan dan upaya manusia yang bergulat untuk mencari sesuatu yang akan memberi pertolongan serta makna bagi kehidupan mereka dan juga kita, kemudian berusaha sendiri tanpa prasangka untuk melihat apa yang mereka lihat, maka tabir yang memisahkan kita dari mereka, akan menjadi kabut tipis yang suatu saat mungkin bisa hilang sama sekali.

Dalam konteks ini, peran mistisisme sebagai sarana untuk menyatukan umat manusia yang berbeda agama menjadi amat penting karena suara batin semua kitab suci dan aspek esoteris semua agama adalah satu dan sama karena berasal dari sumber yang satu dan sama, yaitu Tuhan, dengan pesan yang satu dan sama pula, yaitu realisasi kebenaran, keadilan, dan kesatuan umat manusia.

Dalam kesatuanlah terletak kebahagiaan dan pencerahan manusia dan petunjuk baginya dalam kehidupan. Kesatuan dan cinta akan melahirkan harmoni: harmoni seseorang dengan Tuhan, dengan dirinya, dan dengan segala sesuatu. Tidak adanya kesatuan dan kebencian akan melahirkan disharmoni: disharmoni seseorang dengan Tuhan, dengan dirinya, dan dengan segala sesuatu.

salam dialog

2 Komentar

  1. [...] Mistisisme, Toleransi, dan Kesatuan Agama ANNEMARIE Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam (1975) mendefinisikan mistik sebagai cinta kepada Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan mistik sejati dari sekadar asketisme adalah cinta. Cinta ilahi membuat si pencari mampu menyandang, bahkan menikmati, segala sakit dan penderitaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya untuk mengujinya dan memurnikan jiwanya. Cinta ilahi bisa mengantarkan jiwa sang mistikus [...] [...]

  2. kalo boleh Definisikan secara umum mengenai Sosiologi Keagamaam ok maksih ini dari Timor Leste


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.